Hukum_Kriminal
Rabu 09 Januari 2019 01:26
Aktivis lingkungan hidup YAPELH melakukan aksi di Menara Astra, Jakarta, Selasa (08/01). (BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

BANTENEXPRES - Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH) mendesak PT Astra International, menghentikan kerjasama produksi pembuatan Aki (Battery) yang menggunakan bahan baku Aki bekas dengan para perusahaan penyuplai Aki. Tuntutan aktivis lingkungan hidup ini terjadi saat melakukan aksi unjukrasa di Menara Astra, Jakarta, Selasa (08/01) sore.

"Berpayung kepada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, bahwa Aki setelah tidak terpakai dan menjadi Aki bekas adalah benda yang sangat berbahaya dan beracun, ini sangat merugikan kelangsungan mahluk hidup tidak hanya lingkungan," cetus koordinator aksi, Herman Felani.

Menurut dia, Aki/Battery bekas ini masuk kategori sebagai limbah bahan beracun berbahaya alias B3. Untuk itu pihaknya mendesak PT Astra yang telah memberikan dukungan kepada para perusahaan mitranya sebagai pemasok dan produsen Aki bekas, agar segera menghentikan kerjasama tersebut.

"Kami duga kuat beberapa perusahaan yang bermitra dengan Astra bahkan ada anak perusaannya, membeli bahan timbal batangan untuk diproduksi menjadi Aki, dan kami duga kuat PT Astra ini memberi dukungan atas proses produksi bahan baku Aki yang tidak sesuai dengan Undang-undang tentang lingkungan hidup," ungkap dia.

YAPELH sebagai lembaga yang amat concern terhadap lingkungan ini pun mengimbau untuk menghentikan produk industri pencemar lingkungan hidup.

"Kami minta PT Astra putuskan hubungan dan kerjasama dengan semua pemasok atau penyuplai bahan baku Aki yang menggunakan bahan baku bekas. Juga kami mendesak PT Astra untuk melaksanakan protokol Kyoto mengenai konvensi rangka kerja badan dunia di PBB tentang perubahan iklim," tegas Saipul Basri orator aksi lainnya.

"Mr, Presiden. PT Astra mempunyai keuntungan (Laba) untuk Singapura dan Hongkong. Tapi mengapa limbah dan polusinya (penyakit) untuk rakyat Indonesia!!??," cetusnya. Tanpa proses pengelolaan yang baik dan benar, limbah Aki bekas akan mengakibatkan dampak kerusakan lingkungan berupa pencemaran tanah, air dan udara yang sangat serius berkepanjangan, sambung dia.

Juga debu serta asap yang dihasilkan itu sangat berbahaya bagi kesehatan dan kelangsungan mahluk hidup, akibat timbal dan asam sulfat yang dihasilkan akibat Aki (Battery) bekas tersebut, menurut para aktivis ini.

"Katanya Astra ramah lingkungan? mana buktinya?. Dan kami minta presiden Jokowi jangan tinggal diam melihat persoalan lingkungan hidup ini," teriak Zhigo aktivis lainnya saat berorasi.

Sementara, Direktur Eksekutif YAPELH Uyus Setia Bhakti menjelaskan, aksi ini merupakan aksi lanjutan yang sebelumnya telah dilaksanakan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Desember lalu.

"Aksi hari ini kali keduanya kita lakukan, tuntutan kita hanya minta agar Astra komitmen dan konsisten menjalankan visi perusahaan-nya yang katanya ramah lingkungan, faktanya Astra lemah dalam supervisi pengawasan terhadap perusahaan penyuplai aki," tegas Uyus. (ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek