Politik
Senin 19 Oktober 2020 15:18
Tumpahan sampah TPA Cipeucang Tangsel di Sungai Cisadane, Jumat (22/05). (FOTO: Istimewa)
\"Share

BANTENEXPRES - Jaringan Aktivis Lingkungan Hidup Indonesia (JALHI), menilai bahwa ketiga pasangan calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kurang serius dalam memberikan solusi terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang.

Hal itu terlihat dalam pemaparan Visi dan Misi yang dilakukan oleh ketiga Paslon yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) pada 14 Oktober 2020 kemarin.

"Dari ketiga pasangan calon Wali Kota Tangsel, tidak ada yang menerangkan secara konkrit untuk mengatasi persoalan yang sudah bertahun- tahun terjadi di TPA Cipeucang," ujar Koordinator JALHI Herman Felani kepada BantenExpres, Senin (19/10) di Tangerang.

Seharusnya, kata dia, ketiga Paslon itu memberikan keterangan secara gamblang terkait dengan masalah yang timbul atas dampak pengelolaan TPA Cipeucang yang diduga selama kepemimpinan sebelumnya tidak dikelola sesuai dengan Undang-undang No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. 

Sehingga, atas dugaan pengelolaan yang tidak sesuai dengan aturan itu menimbulkan banyak dampak. Mulai dari dampak sosial dan juga dampak lingkungan yang sangat luar biasa, menurut Herman.

BACA JUGA: Surat Terbuka Untuk Calon Walikota dan Wakil Walikota Tangsel

"Hal ini terjadi, karena ketidakseriusannya Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dalam mengelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang," ucapnya.

Diketahui, dalam pemaparan Visi dan Misi yang dilakukan ketiga Paslon itu tidak terdengar dari salah satu pasangan yang memberanikan diri untuk bersuara dengan tegas bakal menutup dan merelokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang.

“Memang ada salah satu Paslon dari ketiga pasangan itu  yang menyatakan akan mengubah TPA Cipeucang sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan akan melakukan pengelolaan sampah dengan teknologi modern dan ramah lingkungan,” kata dia lagi.

"Namun, menurut kami keterangan itu belum cukup untuk menjadi solusi dalam menangani persoalan yang sangat kompleks di TPA Cipeucang. Hanya kampanye normatif belaka," ujar Herman.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada hari Jumat tanggal 22 Mei 2020 yang lalu telah terjadi tragedi longsoran sampah dari sebuah tempat pemrosesan akhir (TPA) Cipeucang ke Sungai Cisadane. 

Dari tragedi tersebut ratusan ton sampah masuk ke dalam dasar sungai dan hampir menutupi badan Sungai Cisadane. Longsoran sampah dari TPA Cipeucang itu terjadi lantaran tanggul beton sepanjang 58 meter jebol. (ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek