Lapsus
Rabu 22 Januari 2020 01:09
TB Saptani saat meneliti Artefak di Kali Pasir Kota Tangerang. (FOTO: untuk BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - TANGERANG adalah sebuah daerah yang kini terbagi menjadi tiga wilayah. Yakni Kota Tangerang, Kota Tangsel dan Kabupaten Tangerang sebagai induk Tangerang Raya. Selain menjadi Kota Metropolitan yang penduduknya sudah pasti multi, juga Tangerang dikenal dengan ragam budaya dan etnis.

Kali Cisadane yang membentang sepanjang 126 Kilometer dan di tutup dengan Pintu Air 10-nya, adalah ikon Tangerang saat ini, selain juga Tangerang dikenal dengan sebutan “Kota Benteng”. Dan-sebagai informasi, ternyata di Tangerang juga diketemukan Artefak-artefak [arkeolog] kuno, peninggalan benda-benda bersejarah dari kerajaan di nusantara, seperti dari Kerajaan Majapahit, Demak hingga Kesultanan Banten, tentunya.

Demikian baru-baru ini diungkap pegiat budaya yang menemukan beberapa Artefak bersejarah peninggalan kerajaan-kerajaan di Tangerang. Adalah TB Saptani yang sejak 2017 lalu konsen meneliti dan menjaga kerberadan peninggalan sejarah seabagai warisan budaya yang ada di Kota Tangerang, tepatnya di Kali Pasir, belakang Pendopo Lama.

TB Sapani bercerita, pentingnya warisan bersejarah peninggalan para leluhur ini untuk dijaga. Kata dia, sayangnya masih di pandang sebelah mata oleh Pemerintah Daerah. Menurutnya, bahwa Artefak-artefak tersebut amatlah penting diselamatkan, dilestarikan dijaga keberadaanya bahkan wajib untuk dilindungi.

Namun, hingga memasuki tahun 2020, ia melihat kondisi Artefak tersebut cukup memprihatinkan, nyaris tidak terurus keberadaanya. Untuk diketahui, kata dia Artefak-artefak itu berasal dari abad ke-16, dan memiliki berbagai macam corak/motif serta ornamen. Ada sekira 10 buah Artefak yang berbentuk batu nisan terungkus oleh kain putih, dan secara fisik beberapa bagianya telah hancur, patah dan lapuk dimakan usia.

BACA JUGA: Guberur Banten Perintahkan Anak Buahnya Sikat Penambangan Emas Ilegal

Berbagai macam corak/ornamen Artefak ini beberapa diantaranya mengandung nilai-nilai sejarah yang amat tinggi. Beberapa nisan/artefak tersebut menjelaskan akan Hindu-Budha juga kejayaan Kesultanan Banten, dan hanya ditemukan di Indonesia sedikit, termasuk di Kota Tangerang ini, lanka, seperti disebutkan TB Saptani.

“Bisa jadi itu adalah pemicu awal, bahwa ternyata di Tangerang ini pernah menjadi satu-satunya tempat bertemunya antara Kerajaan Demak, Mataram dan Banten juga Kerajaan Majapahit. Dengan bukti adanya ornamen-ornamen di dalam artefak yang medianya adalah batu nisan tersebut,” terang TB Saptani berbincang dengan awak BantenExpres.

Salah satu Artefak disananya juga ditemukan bermotif Troloyu dari jaman Kerajaan Majapahit, sambung dia. Kemudian ada juga motif Swastika ornamen nama Hindu-Buhda, bahkan TB Saptani lagi-lagi menyebut ada lambang bendera Nabi Daud bersegi 8 dan itu menandakan Banten sebagai daerah yang diberikan khusus oleh Kerajaan Mekkah, kala itu.

“Saat itu sebagai salah satu untuk pertama kalinya gelar Kesultaan dan di dalam lambang tersebut juga pertanda saat itu terjadi peresmian dengan Kerajaan Mataram dan Demak sebagai cikal bakal lahirnya apa yang disebut Kesultanan Islam, waktu itu,” jelas Saptani.

Oleh sebab itu, menurutnya Artefak-artefak yang berada di Kota Tangerang ini sangat perlu dijaga, dilindungi keberadaanya. Tetapi, lagi-lagi ia sangat kecewa dengan Pemerintah Daerah Kota Tangerang yang hingga kini keberadaan nilai-nilai sejarah diatas-masih juga terabaikan. Bahkan kata dia, Walikota Tangerang Arief Wismansyah didampingi Wakilnya Sachrudin pada tahun 2017 lalu sudah melihat langsung ke lokasi, mengecek kondisi Artefak.

“Yah buktinya hingga saat ini masih juga tidak ada perhatian serius dari Pak Walikota. Artefak-artefak tersebut tidak terawat. Saya khawatir lama-lama ini akan aus alias pudar bahkan bisa hilang. Maka saya kira ini sangat penting untuk segera dilindungi keberadanya, selain itu juga agar generasi-generasi mendatang mengenal dan tahu, ada lho sejarah-sejarah di Tangerang yang tak kalah hebatnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia, soal sejarah,” tutur dia.

BACA JUGA: Ketua DPRD Kota Tangerang: Aset Kabupaten Tangerang Masih Dikekepin

Dari perjalanan itulah, akhirnya TB Saptani pada Selasa (21/01) menemui langsung Ketua DPRD Kota Tangerang, dan diterima langsung oleh Gatot Wibowo sebagai Ketua didampingi Wakil Ketua Dewan Turidi Susanto serta dihadiri Kabid Disbudpar Kota Tangerang Sumangku Getar. Ia menumpahkan segala keresahanya pada hari itu.

“Tentunya saya berhadap kepada Ketua DPRD dan jajaranya juga Disbudar Kota Tangerang agar segera melakukan langkah-langkah nyata untuk segera menyelamatkan aset-aset sejarah di Kali Pasir, Kota Tangerang ini. Minimal dibuatkan pagar sebagai pelindung untuk artefak-artefak ini. Kalau juga pemerintah tidak sanggup melindungi itu, biar saya aja deh yang keluarkan kocek, saya rela kok, demi menjaga nilai-nilai sejarah yang ada di Kota Tangerang ,” tegas Saptani.

Dari pertemuan hari ini, terwacanakan akan sesegara mungkin ditindaklanjuti. Direncanakan Jumat pekan ini wakil rakyat [DPRD] akan melakukan sidak di lokasi Artefak. Kemudian juga akan dimulai dianggarkan pada kuwartal Oktober 2020 mendatang, sebagai langkah penyelamatan demi menjaga situs-situs bersejarah yang ada di Kota Tangerang.

Upaya tersebut pun langsung ditanggapi oleh TB Saptani dengan optimis, bahwa Pemerintah Daerah Kota Tangerang bersama DPRD sudah selayaknya dan segera mengambil langkah konkrit dan sikap nyata terhadap keberadaan peninggalan-peninggalan bersejarah, khususnya yang berada di Kali Pasir itu.

“Alhamdulillah saya lega akhirnya. Mudah-mudahan upaya bersama ini kan menjadi sebuah langkah awal Pemerintah Daerah Kota Tangerang bersama DPRD Kota Tangerang, peduli dengan keragaman, kebudayaan, nilai-nilai sejarah yang saat ini ada di bumi Tangerang. Saya apresiasi itu,” Tb Saptani mengakhiri dengan senyum penuh harapan. (ZIE/SEL)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek