Nasional
Rabu 10 Februari 2021 13:06
Arif Zulkifli, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers. (FOTO: Istimewa)
\"Share

BANTENEXPRES - Sekretaris Kabinet Pramono Anung menekankan mengenai pentingnya kritik dan saran bagi pemerintah. Meski begitu, buzzer kerap menyerang para pengkritik pemerintah, termasuk salah satunya pers.

Pramono Anung menekankan mengenai pentingnya kritik dan saran bagi pemerintah. Menurutnya kritik yang keras dan terbuka akan membuat pembangunan lebih terarah.

Sementara itu, Dewan Pers turut berkomentar mengenai fenomena tersebut. Buzzer dinilai dapat membahayakan kebebasan pers.

"Kehadiran dari para pendengung (buzzer) itu menjadi membahayakan bagi kebebasan pers," ujar Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Arif Zulkifli, di Jakarta, Selasa (09/02).

Pada praktiknya, kata Arif, buzzer tidak mengkritik berita yang disiarkan oleh pers. Namun, buzzer kerap melancarkan serangan kepada pers itu sendiri.

"Salah satu syarat kritik yang sehat adalah pengkritik itu tidak boleh anonim jadi harus jelas Siapa yang mengkritik," ucap Arif dilansir detikom.

"Kalau tidak clear siapa para pendengung ini, ini akun-akun anonim begitu maka tidak bisa dipertanggungjawabkan," tuturnya.

Dalam beberapa kasus, buzzer juga menyerang jurnalis yang membuat berita. Hal tersebut, kata Arif, dimaksud untuk menurunkan kredibilitas dari media, bukan mendebat konten yang disajikan media.

"Mereka tidak melakukan itu (debat terkait konten pers) tetapi berusaha menciderai kredibilitas dari si wartawan. Saya mengatakan ini sebagai upaya killing the messenger, jadi pembawa pesannya yang berusaha dipersoalkan," imbuh Arif.

Dalam beberapa kasus, kehadiran buzzer ini dinilai menguntungkan pemerintah. Namun Arif menuturkan tidak pernah ada bukti bahwa pemerintah menggerakkan buzzer.

"Tidak pernah ada bukti bahwa para buzzer itu digerakkan oleh pemerintah itu problemnya selalu itu jadi bersembunyi dibalik anonimitas, bersembunyi di balik kebebasan di dalam media sosial," ucap Arif.

"Jadi saran saya adalah menurut saya di satu pihak pemerintah mendengarkan kritik dari pers di lain pihak pemerintah memang mestinya membantu pers supaya bisa hidup dalam lingkungan yang tidak represif dalam hal ini dari serangan-serangan yang anda katakan tadi, doxing tadi. Realnya bagaimana ya kalau ada laporan soal doxing ya diproses pelakunya harus ditemukan," jelas jurnalis senior ini.

Anggota Dewan Pers Asep Setiawan sependapat dengan Arif. Kehadiran buzzer dianggap mengganggu kebebasan pers.

"Buzzer mengganggu kemerdekaan pers karena fungsi pers kontrol sosial," jelas Asep. Sikap Asep memilih tegas terhadap buzzer. Ia meminta buzzer ditiadakan.

"Sebaiknya buzzer ini ditiadakan saja karena pemerintah sudah ada pejabat humas yang menjawab jika kritik pers perlu direspons, atau dari para pemangku jabatan publik langsung," lanjutnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengaku, dirinya dan pemerintahan yang dipimpin membuka diri dan tidak alergi, terhadap masukan dan kritik yang datang dari pers.

Menurut dia, media massa punya peranan sangat penting, tidak hanya menjadi sarana informasi, juga mengemban misi bagi kemajuan suatu bangsa.

Kepala Negara mengakui, bahwa peran pers cukup vital untuk kemajuan bangsa dan negara hingga ke depannya.

"Pemerintah terus membuka diri terhadap masukan dari insan pers. Jasa insan pers sangat besar bagi kemajuan bangsa selama ini dan di masa yang akan datang," kata Presiden Jokowi, dalam sambutannya dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (09/02).

Presiden juga mengajak semua elemen masyarakat, termasuk media massa terus menebarkan optimisme. Krisis kesehatan dan ekonomi akibat COVID-19 harus segera terlewatkan.

Dan tentunya, lanjut Presiden, melalui informasi yang disiarkan pers, harapan akan melewati krisis ini dapat dilalui. Jokowi ingin, adanya lompatan besar setelah krisis mampu diatasi.

"Terima kasih kepada insan pers karena membantu pemerintah mengedukasi masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan dan membantu masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan tepat," demikian Presiden Jokowi. (GUNG)

Diolah dari berbagai sumber

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek