Hukum_Kriminal
Rabu 03 Juni 2020 20:04
TPA Cipeucang Serpong Kota Tangerang Selatan(FOTO: untuk BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Direktur Foundation Bank Sampah Sungai Cisadane [Banksasuci] Ade Yunus, menjelaskan, dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dinyatakan bahwa penanganan sampah dengan pembuangan terbuka terhadap pemrosesan akhir dilarang.

“Sistem open dumping yang dilakukan TPA Cipeucang Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang berada di Bantaran Sungai Cisadane mempunyai potensi bahaya sangat besar, yaitu kemungkinan longsor pada saat musim hujan lebat dan potensi kebakaran bahkan ledakan saat musim kemarau,” tutur dia.

Bahaya saat musim hujan

Infiltrasi air hujan melalui rongga pada material sampah yang tidak terpadatkan dengan baik dan melalui batas antara timbunan dan lereng batuan/tanah dasar yang kedap air membentuk muka air (water table) pada batas dasar timbunan sampah dan lapisan batuan/tanah dasar. 

Proses penjenuhan dan pembentukan muka air ini menyebabkan pelunakan lapisan bawah timbunan sehingga tidak mampu menopang berat beban timbunan di atasnya sehingga terjadi longsor. 

BACA JUGA: TPA Cipeucang Runtuh, Aktivis Akan Laporkan Ke Mabes Polri dan KPK

Oleh karena itu, kata Ade, adanya sistem drainase air resapan dan air permukaan yang baik merupakan suatu keharusan pada suatu TPA untuk mencegah pembentukan muka air di dalam timbunan sampah.

Timbunan sampah yang terlalu tinggi dari lapisan batuan/tanah dasar dapat menimbulkan beban berlebih di bagian bawah timbunan sehingga dapat mengganggu kestabilan timbunan tersebut di saat musim hujan.

Bahaya saat musim kemarau

Pembuangan sampah sistem open dumping di lokasi TPA mengakibatkan gas hasil dekomposisi seperti gas Hidrogen Sulfida (H2S), Metan (CH4), dan Amoniak (NH3) lepas ke udara.

Akibatnya udara sekitar TPA menjadi bau dankualitas udara ambien menurun, sambung dia. Bau seperti telur busuk yang terdapat di TPA bersumber dari H2S yang merupakan hasil samping penguraian zat organik. Persentase gas H2S yang dihasilkan dari TPA berkisar antara 0-0,2% . 

Hidrogen Sulfida atau Asam Sulfida merupakan suatu gas tidak berwarna, mudah terbakar, dan sangat beracun. 

Gas ini dapat dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kesehatan manusia, terutama jika terpapar melalui udara. 

Gas H2S dengan cepat diserap oleh paru-paru, pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan hilangnya kesadaran bahkan kematian.

BACA JUGA: PPDB Gratis, Jika Ada Pungli Laporkan Ke Polisi

“Selain itu, saat musim panas apabila gas metan di TPA tidak dikelola dengan baik, seperti kurangnya pipa-pipa gas metan, atau tidak adanya tangkapan gas metan, maka berpotensi terjadinya kebakaran bahkan ledakan,” cetus Ade dalam keteranganya di Tangerang, Rabu (03/06).

Ledakan keras 15 tahun lalu di TPA di Desa Leuwigajah, Bandung Jawa Barat, yang menewaskan 143 orang meninggal dunia  adalah buktinya. 

Kala itu ribuan ton kubik sampah datang bak gelombang tsunami, sampah anorganik berupa plastik, gabus, kayu, hingga sampah organik menghantam dua pemukiman yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Dua pemukiman tersebut luluh lantak, lenyap, tertimbun sampah.

“Oleh karena itu, sekali lagi kami tegaskan untuk segera tutup TPA Cipeucang. Selain letaknya yang juga melanggar, juga memiliki potensi bencana, karena kita telah belajar dari tragedi TPA Leuwi Gajah,” tandas Ade.

Seperti diberitakan, dinding penahan sampah atau sheet pile di TPA Cipeucang sepanjang 60 meter jebol pada 22 Mei lalu. Pemerintah Kota Tangerang Selatan saat ini terus melakukan pembersihan sisa-sisa sampah yang masih menggunung dan menyumbat sebagian aliran sungai Cisadane. (GUNG/EDY)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek