Kesehatan
Selasa 03 Desember 2019 09:26
Penyimpangan seks beresiko tinggi penularan penyakit HIV alias AIDS. (FOTO: Ilustrasi | NET)
\"Share

BANTENEXPRES - Fenomena perilaku seks menyimpang seperti dan threesome akhir-akhir ini menjadi sorotan karena video-video seks itu viral di media sosual. Hubungan seksual seperti itu termasuk berisiko tinggi dan tidak terlepas dari risiko penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Seperti salah seorang pelaku video seks gangbang di Garut yang viral dan menghebohkan, dan akhirnya meninggal dunia, sebelumnya juga terkonfirmasi positif mengidap HIV.

Menanggapi fenomena tersebut, pakar HIV yang juga mantan Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi mengatakan bahwa pelaku-pelaku itu harus diedukasi, bahkan sudah semestinya dipenjara jika edukasi sudah tidak 'mempan' lagi.

"Kalau sudah dianggap menyimpang aparat keamanan harus turun tangan, mestinya mereka diberikan edukasi, ditangkap," katanya di Gedung IMERI FKUI Salemba, Jakarta Pusat, Senin (02/12).

BACA JUGA: Penyebaran HIV/AIDS di Lebak Memperihatinkan

Seperti dilansir laman detikhealth, HIV adalah suatu virus yang bisa merusak sistem kekebalan tubuh manusia hingga tidak bisa bekerja secara efektif lagi. Jika tidak ditangani dengan obat-obatan atau tindakan yang tepat, infeksi ini dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome), kondisi kronis yang berpotensi mengancam nyawa.

Dalam penularan penyakit ini, seseorang bisa tertular jika terjadi kontak dengan darah, sperma, atau cairan vagina yang terinfeksi. Namun, kebanyakan orang yang terkena virus ini karena melakukan hubungan seks dengan pengidap HIV tanpa menggunakan kondom.

HIV tidak selalu menunjukkan gejala yang signifikan, tapi biasanya pengidapnya akan mengalami flu sekitar 2-4 minggu setelah penularan. Meskipun tertular, sistem imun tidak rusak secara cepat, ada masanya atau periode latensi. Periode ini akan berlangsung selama bertahun-tahun.

BACA JUGA: Khasiat Jambu Biji Untuk Kesehatan Jantung

Sementara itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PDSPDI) Banten mencatat, dalam satu tahun terakhir penderita penyakit tersebut sebanyak 11.238 orang.

Penyebabnya, perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender alias LGBT khususnya hubungan sesama jenis, ternyata menjadi pemicu tingginya angka kasus HIV atau AIDS di tanah jawara-Banten.

"Terdata, setiap tahun penderitanya terus meningkat dan untuk Provinsi Banten ada 11.238 penderita HIV atau AIDS yang mana, 75 persennya berada di Tangerang Raya, yang meliputa Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan," ungkap dr I Gede Raikosa, di Tangerang, Ahad( 01/12) saat memperingati Hari Aids Sedunia. (GUNG)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek