Pendidikan
Kamis 26 Juli 2018 09:07
Herayati bersama kedua orang tuanya. (FOTO: Istimewa)
\"Share

CILEGON - Keterbatasan ekonomi yang ada tidak membuat Herayati (23) menyerah menggapai mimpinya untuk berkuliah di Institut Teknologi Bandung ( ITB). Hera, begitu ia kerap disapa lulus sarjana dari Program Studi Kimia FMIPA ITB dan memperoleh predikat Cum Laude dengan IPK 3,77.

Saat ini, ia tengah menjalani program fast track ITB. Program ini merupakan lanjutan S-1 ke S-2 yang dapat diselesaikan dalam waktu lima tahun. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Penghasilan orangtua Hera tidak menentu setiap harinya.

Mimpi Sejak SMP, Hera mempunyai keinginan masuk ITB sejak pendidikan sekolah menengah pertama (SMP). Awalnya, Hera mengikuti jalur seleksi SNMPTN, tapi gagal. Langkahnya tidak berhenti, ia kembali mencoba jalur seleksi SBMPTN dan diterima.

Hera masuk ITB pada tahun ajaran 2014. "Saya emang udah punya keinginan masuk ITB sejak kelas 9 MTS, di MTs Negeri Pulomerak waktu itu saya sekolah," kata Hera. "Itu ada guru saya yang menceritakan ada alumni MTs yang kuliah di ITB dengan beasiswa. Saya ingin kuliah yang ada beasiswanya, jadi waktu itu saya tahunya cuma di ITB, maka saya pengin kuliah di ITB gitu," tutur Hera kepada wartawan.

Mempersiapkan diri anak bungsu dari empat bersaudara ini mulai belajar untuk mempersiapkan tes masuk ITB sejak duduk di bangku SMA. Hera belajar secara mandiri, hingga pada akhirnya mendapat beasiswa di salah satu lembaga bimbel karena prestasinya.

"Waktu masuk MAN, saya mulai merintis perjuangan, mulai belajar buat tes masuk ITB. Kelas 10 dan 11 saya belajar otodidak, sendiri, ya paling di sekolah ya dibimbing sama guru saja, tapi kalau di rumah saya sendiri, ga ikut bimbel," beber Hera.

Menginjak kelas 12, Hera mengikuti try out yang diadakan ‘Debus ITB’ yang merupakan Unit Kebudayaan Banten di ITB. "Alhamdulillah waktu itu nilai saya tertinggi keempat dari seluruh peserta tes yang ikutan," jelas dia.

"Nah jadi untuk yang peringkat 1 sampai 5 itu kami diberikan beasiswa bimbel di salah satu lembaga bimbel, dari beasiswa itulah saya ikut bimbel. Soalnya kalau biaya sendiri saya ga punya sih," tambah Hera.

Dengan keterbatasan ekonomi yang ada, orangtua Hera mendukung langkahnya ketika ia memilih jalan hidup untuk berkuliah di ITB. "Dari kelas 9 itu saya bilang ke orangtua pengin kuliah di ITB. Alhamdulillah saya punya orangtua yang mendukung banget. Jadi walaupun saya melihat kekhawatiran soal biaya bagi mereka, tapi mereka ga pernah bilang jangan. Jadi selalu mendukung apa yang saya mau ambil keputusannya," terang Hera.

"Tetap semangat belajarnya, jangan lupa berdoa, percaya bahwa Allah maha segalanya, dan Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Jangan takut bermimpi, selalu berani menggapai mimpi, tetap sabar dalam menjalani prosesnya karena semua akan indah pada waktunya," Hera berpesan untuk tidak takut bermimpi.

Kepada para pewarta, Hera juga ingin jadi dosen di salah satu universitas di Banten. Keingininnya itu agar bisa dekat dengan orang tua. Cita-citanya untuk jadi dosen di Banten agar kelak ia bisa dekat dengan kedua orang tuanya. Selama kuliah, ia mengakui selalu rindu dengan kedua orang tuanya.

Selain itu, kegemaraannya mengajar dan meneliti semakin memantapkan niatnya untuk menjadi dosen. Kedua hal itu menurutnya paling cocok disalurkan ke profesi dosen. "Suka mengajar dan suka meneliti Hera rasa yang cocok dua kesukaan itu ya jadi dosen itu," tambah gadis berhijab ini.

Sementara, Sawiri (66), ayah Hera pun berharap anaknya bisa menjadi dosen. Sawiri yang berprofesi pengayuh becak ini mengungkapkan kebanggannya bisa melihat anak bungsunya itu lulus dari ITB. Ia berharap anaknya bisa menjadi dosen dengan terlebih dahulu melanjutkan studi S2.

"Alhamdulillah, malah bapak bangganya jadi dosen karena kalau perempuan kerja di pabrik kayak gimana itu," kata Sawiri kepada wartawan di kediamannya, Kotasari, Grogol, Kota Cilegon.

Sebagai informasi, Sawiri sehari-hari mangkal di pangkal becak di Rumah Sakit Krakatau Medika Kota Cilegon. Ia sudah lebih 30 tahun menarik becak, dari penuturan rekan seprofesinya pendapatan utamanya dari hasil menarik becak. (MUH/JAY)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek