Lapsus
Senin 26 Agustus 2019 09:21
Para aktivis melakukan aksi teatrikal di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, sebagai bentuk protes terhadap layanan kesehatan, Senin (26/08). (FOTO: IST)
\"Share

BANTENEXPRES – Sudut-sudut Kota Tangerang berhiaskan taman-taman cantik nan indah. Dikelilingi gedung-gedung menjulang megah juga berbagai penghargaan dan prestasi t’lah diraih, baik tingkat provinsi hingga nasional menjadi kebanggan warga Kota Tangerang, kota dengan julukan seribu indutri dan jasa.

Juga gemerlap kemeriahan festival-festival kerap mewarnai Kota Tangerang, kota dengan motto religius “Ahlaqul Karimah” sejak terbentuk tahun 1993 silam ini. Menyihir siapa saja yang bertandang ke Kota Tangerang.

Ajang penghargaan seperti WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dibidang pengelolaan keuangan terbaik berturut-turut setiap tahun didapat. Dibidang kebersihan ada Piala Adipura yang juga setiap tahun digenggam Kota Tangerang dan se-abreg penghargaan lainnya membuat bersinar Kota Tangerang dikancah nasional.

Saya (penulis) sebagai warga Kota Tangerang juga ikut apresiasi. Tak dipungkiri infrastruktur dan pelayanan-pelayanan lainnya terus berkembang dari tahun ke tahun. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya tak terkecuali perkembangan politik pun, dirasa epik di Kota-ku ini.

Lantas bagaimana dengan SDM (sumber daya manusia-nya) di Kota Tangerang ditengah segala kemajuan zaman ini, wabil khusus SDM para pemimpin serta para pegawai pemerintahan alias PNS-nya diberbagai sektor. Sudahkah sesuai dengan ekspektasi [harapan] bagi warga Kota Tangerang yang urban itu?.

Semisal, bagaimana mereka [PNS] memberikan pelayanan terbaik kepada publik, cepat lambat ataukah masih menunggu komando alias perintah dari atasan?. Atau mungkinkah masih terpaku oleh SOP [standar operasi prosedur]? yang telah dibuat oleh para pemangku kebijakan.

Tentu kita masih inget peristiwa belum lama ini di Kota Tangerang yang viral dan mengegerkan lini massa. Publik kaget saat ada oknum PNS di Kota Tangerang memposting status di media sosial, berisi [tulisan] hinaan terhadap pembantu. Walau status tersebut disanggah pelaku-dengan alasan akunnya telah di hack alias dibajak.

Akibat kekonyolan oknum PNS tersebut, Kota Tangerang pun heboh dan menjadi perhatian publik. Si pelaku menjadi bulan-bulanan silih berganti netizen alias warganet menghujani bully dan cacian. Kecanggihan media sosial berujung petaka dan keindahan Kota Tangerang pun ikut tercoreng.

Sanksi tegas oleh Pemerintah Kota Tangerang terhadap oknum PNS tersebut pun berjalan. Si pelaku dimutasi, tapi nasi sudah menjadi bubur. Publik melihat ini sebagai suatu kesalahan fatal yang terjadi di Kota Ahlaqul Karimah, tidak hanya mutasi yang diterima si pelaku, tapi hukuman terberat adalah sanksi sosial dari publik yang akan ia kenang.

Lalu publik bertanya, selama ini sebenarnya bagaimana pembinaan/bimbingan yang kerap diberikan pemimpin Kota Tangerang dalam hal ini Walikota Tangerang terhadap para bawahanya?. Sejauh mana melakukan pembinaan-pembinaan kepada para PNS-nya? Seperti cara menggunakan sosial media dan etika-etika lainnya, sebagai abdi negara dan juga pelayan masyarakat.

Namun, belum juga pertayaan itu terjawab dan Kota Tangerang belum bernafas lega, tiba-tiba hari ini kita kembali dikejutkan oleh viralnya seorang laki-laki yang menggotong jenazah bak dipedalaman sana tapi terjadi di tengah kota, yah di Cikokol Kota Tangerang, Sabtu (24/08). Membuat heboh geger masyarakat, tak hanya diruang publik diruang nyata pun ragam reaksi keras bermunculan.

Peristiwa memilukan terjadi ketika seorang paman membawa jenazah keponakanya yang meninggal akibat tenggelam di sungai Cisadane. Jenazah digendong dari Puskesmas setempat karena tidak mendapatkan mobil ambulan [terhambat SOP/aturan]. Tak terelakan peristiwa ini menjadi makanan empuk pemberitaan berbagai media maenstream, ditambah ragam komentar warganet yang bertubi-tubi tiada henti.

Kesal, sedih, cacian juga kecewa begitu nampak dari semua komentar publik tersebut. Berasa penulis pun-dibuat malu sebagai warga Kota Tangerang tertampar keras. Seakan Kota Tangerang yang kerap dibangga-banggakan atas segala raihan prestasi hebat, hari ini runtuh seketika akibat peristiwa pilu diakhir pekan, sungguh ironi.

Menghujam deras ribuan warganet membully mencaci-maki Kota Tangerang. Silih berganti media membombardir peristiwa di tengah Kota ini. Foto dan video peristiwa yang kuat itu sangat memukul hati kita, entahlah bagi para pejabat disana,(?).

Dari Sabtu malam hingga Minggu, semua platform media sosial seperti Facebook, Twitter Instagram dan lainnya riuh memuat informasi peristiwa di Kota Tangerang-ku ini. Rasanya, lagi-lagi berbagai penghargaan yang telah diraih Kota Tangerang itu rontok akibat peristiwa “Paman Menggotong Jenazah Keponakanya”. “Karena nilai setitik, rusak susu sebelanga”

Ada apa dengan Kota Tangerang-ku? Kota yang setiap malam disinari indahnya gemerlap lampu-lampu taman. Kota yang megah oleh masjid Al-Azhomnya, Kota yang hebat akan prestasinya, Kota yang besar akan APBD-nya, Kota yang selalu bergembira akan kemeriahan festival-festivalnya.

Dari rangkain peristiwa tersebut hendaklah agar menjadi cambuk dan perhatian serius dari pemimpin di Kota Tangerang, tidak sekedar melayangkan permintaan maaf kepada setiap warganya yang kurang mendapatkan pelayanan lebih dan memberikan sanksi kepada bawahan yang melakukan kesalahan.

Tapi Walikota Tangerang-sebagai pucuk pimpinan tertinggi di Kota Tangerang juga diharapkan lebih ekstra lagi dalam setiap memberikan pembinaan dan evaluasi kepada para bawahanya [PNS]. Untuk membekali diri menjadi PNS yang hebat, yakni mempunyai jiwa sosial yang tinggi, peka terhadap kemanusiaan, lebih peduli terhadap norma-norma kehidupan tidak hanya melulu “doktrin” perintah kerja cepat dalam rangka memburu sebuah penghargaan yang kadang kerap melahirkan para penjilat.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa tidak sedang menurunkan teguran kerasnya atas segala kesombongan yang ada, melainkan tengah memberikan ujian-kepada Kota Tangerang-ku, Kota yang kita cintai bersama ini.

Hari ini, cukup sudah pelajaran yang di dapat Kota Tangerang-ku. Drama perseteruan antar Walikota Tangerang dengan Menteri HukumdanHAM, oknum PNS menghina pembantu, seorang paman menggotong jenazah. Lakukan evaluasi disemua lini, benahi segala kekurangan dan kelemahan itu wahai pemimpin Kota Tangerang. Jangan sombong hilangkan ego atau Allah SWT akan menurunkan sanksi keras lagi kepada Kota Tangerang. Naudzubillah Min Dzalik… (ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek