Lapsus
Minggu 20 Oktober 2019 19:08
Simulator Radar ATC karya Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan. (FOTO: untuk BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Indonesia dengan usianya yang Ke-74 dengan berbagai permasalahan yang telah dan sedang dihadapi ternyata tidak mematahkan anak bangsa untuk berkarya dalam berbagai bidang. Karya-karya yang telah dibungkus oleh anak bangsa ternyata belum memberikan efek signifikan terhadap kebiasaan konsumtif import barang luar negeri di Negeri ini.

Kebiasaan konsumtif ini ternyata terjadi bukan hanya di kalangan masyarakat pada umumnya. Namun, juga di instansi pemerintah yang dituntut meningkatkan pelayanan dengan menerapkan teknologi terkini. Instansi pemerintah terkesan terikat dengan produk import yang handal, berkukalitas dan berteknologi tinggi dalam rangka peningkatan pelayanannya, sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selalu kurang berimbang karena meningkatnya anggaran belanja tiap tahunnya, sedangkan pendapatan dari pajak selalu fluktuatif dari tahun ke tahun.

Pemerintah dalam hal ini telah dan sedang berupaya melakukan langkah nyata untuk mendukung karya anak bangsa. Salah satu langkah pemerintah dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun sebuah Badan Layanan Umum (BLU), dimana instansi pemerintah yang bersinggungan langsung terhadap pelayanan kepada masyarakat diberikan kebebasan untuk mengelola pendapatannya secara langsung dengan pengawasan melekat, Dan lambat laun akan mengurangi anggaran belanja negara sampai instansi ini dapat berdiri secara mandiri tanpa membebani anggaran pemerintah dari pendapatan pajaknya.

Langkah membentuk Badan Layanan Umum (BLU) ini ternyata menyimpan segudang perubahan yang memaksa Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melakukan efisiensi terhadap operasional instansinya. Tuntutan perubahan dari sisi efisiensi belanja operasional ini membangkitkan karya-karya inovatif abdi negara dengan tetap menjaga Good Governance Coorporate (GCG). Salah satu instansi BLU di bidang pendidikan dan pelatihan penerbangan melakukan perubahan dalam efisiensi anggaran dengan menerapkan teknologi tepat guna dalam melakukan pemeliharaan peralatan Simulator Radar alias ATC, yang merupakan aset negara.

Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan, merupakan salah satu instansi pemerintah di bawah Badan Pengembangan SDM pada Kementerian Perhubungan dan sedang bertransformasi menjadi Politeknik Penerbangan Medan yang ditetapkan sebagai instansi BLU penuh sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1330/KMK.05/2015 tanggal 13 Desember 2015. Dalam upayanya untuk memberikan pelayanan pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan telah melakukan terobosan efisien anggaran dalam rangka pemeliharaan asset negara berupa Simulator Radar ATC yang digunakan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia Pengatur Lalu Lintas Udara bersertifikasi Radar Controller.

Simulator Radar ATC yang merupakan produk import di tahun 2014 adalah sebuah produk berteknologi tinggi yang diproduksi oleh salah satu negara Eropa yang tentunya dalam pemeliharaannya akan sangat tergantung dari perusahaan yang membuatnya. Di tahun 2018, Simulator ini mengalami kerusakan sistem dan segera melakukan upaya perbaikan dengan menghubungi perwakilan vendor di Indonesia. Hasilnya adalah penawaran biaya pemeliharaan Simulator Radar ATC yang cukup fantastis, yakni mencapai RP.4 miliar.

Seorang Dosen Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan yang melihat potensi beban belanja pemeliharaan Simulator Radar ATC yang cukup besar ini, berupaya melakukan langkah inovatif untuk menekan biaya pemeliharaan. Upaya ini mendapatkan dukungan penuh dari manajemen ATKP Medan unutk menekan biaya pemeliharaan yang cukup besar. Riset dan implementasi pun dilakukan bersama tim Dosen ATKP Medan dengan membangun rancangan modifikasi inovatif sederhana untuk menyelesaikan permasalahan kerusakan Simulator Radar ATC secara mandiri.

“Rancangan ini tidak bisa dikatakan bagus karena belum melalui uji kehandalan dan kualitas, namun minimal dapat memenuhi kebutuhan operasional pembelajaran sesuai standar Training Procedures Manual, Program Studi Pengatur Lalu Lintas Udara. Rancangan ini baru diuji coba oleh para Dosen, Instruktur dan Praktisi Program Studi Pengatur Lalu Lintas Udara (PLLU),“ terang Ayub Wimatra-salah satu Dosen dan Kepala Sub Bagian Keuangan ATKP Medan yang juga merupakan pembuat Rancangan Modifikasi sistem Simulator Radar ATC.

“Dengan rancangan ini biaya pemeliharaan dapat ditekan sekecil-kecilnya dan kita sudah bisa kembali menerima kebutuhan pelatihan ATC Radar yang merupakan prospek pendapatan BLU ATKP Medan,” kata dia.

Rancangan Modifikasi Sistem Simulator Radar ATC ini menghabiskan dana sebesar Rp.386 juta, yang juga termasuk perancangan sistem baru pendukung Simulator Radar ATC berupa Voice Control Communication Switching (VCCS). Rancangan baru ini adalah murni ide anak bangsa yang merupakan pengembangan dari sistem VCCS yang mengalami kerusakan sebelumnya. Ayub menjelaskan, bahwa konsep rancangan VCCS buatannya itu menggunakan teknologi Revolusi Industri 4.0 dengan konsep IoT (Internet of Things) yang memungkinkan perpaduan android untuk sistem kendali software-nya dan microcontroller Arduino untuk sistem kendali hardware-nya.

Ini membuktikan bahwa karya anak bangsa pun dapat ikut ambil bagian dalam kancah revolusi teknologi terkini di Indonesia khususnya di lingkungan Pendidikan dan Pelatihan di bawah Kementerian Perhubungan. Sebuah kebanggaan menjadi bangsa yang besar ini dengan segudang harapan bahwa Pemerintah dapat terus memberikan dukungan dalam berbagai bentuk dari mulai kebijakan, peraturan perundangan dan anggaran serta pengawasan melekat terhadap perjuangan anak bangsa, dalam upayanya membawa nama bangsa Indonesia semakin harum di kancah dunia Industri Internasional. Semangat dan maju terus anak bangsa, buka selubung karya-karyamu yang terbungkus untuk Indonesia.

Achmad Lubis - Ketua Umum MTUI (Masyarakat Transportasi Udara Indonesia)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek