Nasional
Selasa 09 Maret 2021 08:34
Ketua Dewan Pers M Nuh saat verifikasi pengurus daerah JMSI, Senin (08/03). (FOTO: Dok-JMSI)
\"Share

BANTENEXPRES - Pengelola media massa berbasis internet atau media digital perlu memahami digital culture. Pemahaman akan budaya dunia digital itu adalah modal penting yang harus dimiliki agar media siber dapat menghasilkan karya pers yang positif dan konstruktif.

Demikian pesan yang disampaikan Ketua Dewan Pers Prof. Mohammad Nuh, dalam kesempatan verifikasi faktual Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Senin (08/03).

“Karena Anda mengelola media siber, maka kuasai yang namanya digital culture. Bagaimana substansi atau hakekatnya,” kata M. Nuh didampingi anggota Dewan Pers Agus Sudibyo.

Karena model komunikasi digital one to many, maka informasi yang disebarkan media siber bersifat ubiquitous atau muncul dimana-mana, sambung dia.

“Dia (informasi yang disiarkan media siber) lintas wilayah, termasuk lintas negara, yang tidak terikat pada waktu dan tidak terikat pada ruang,” ujarnya.

“Karena itu harus disadari oleh kawan-kawan JMSI, informasi (di dunia digital)  memiliki risiko yang sifatnya multifikatif,” ucap M. Nuh yang juga pernah menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika.

Dia mengilustrasikan, bila ada kesalahan, maka kesalahan itu akan menyebar dengan sangat cepat dalam waktu yang singkat.

Dengan demikian, mantan Menteri Pendidikan Nasional ini berpesan agar pengelola media siber, terutama pengelola ruang redaksi, bersikap extra prudent atau ekstra hati-hati.

“Kualitas konten menjadi mutlak untuk diperhatikan,” tambahnya. Pesan dia selanjutnya pengelola media siber perlu menyadari bahwa kekuatan redaksi terletak pada setiap pekerja pers atau wartawan.

Ruang redaksi media siber tidak dikelola seperti ruang redaksi media cetak yang memungkinkan pemusatan atau sentralisasi bahan berita sebelum dirilis sebagai berita.

“Harus ada kepastian mengenai kualitas informasi karya jurnalistik media online. Kalau tidak nanti akan bergeser ke urusan hoax, dan itu akan menjadi rumit,” tuturnya.

Pesan berikutnya yang disampaikan mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini adalah agar pengelola media siber memegang teguh prinsip good journalism.

“Praktik jurnalisme yang baik harus tetap menjadi pegangan kita semua. Kita tidak ingin mengikuti pola medsos. Kita mau cepat tapi tetap dengan good journalism,” kata dia lagi.

Hal terakhir yang dipesankan M. Nuh adalah pentingnya melakukan upgrading terhadap sikap, pengetahuan, dan skill pekerja pers media siber.

“Kita tidak hanya migrasi dari physical space ke digital space, tetapi juga migrasi mindsite,” demikian M. Nuh.

Sementara Ketua Umum Pengurus Pusat JMSI, Teguh Santosa yang juga hadir dalam verifikasi faktual JMSI Jawa Timur ini mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran Ketua Dewan Pers M. Nuh dan jajaran.

Menurutnya, kehadiran M. Nuh dan Agus Sudibyo adalah sebuah kehormatan tidak hanya untuk JMSI Jawa Timur, tetapi juga untuk keluarga besar JMSI yang sedang meniti jalan untuk menjadi konstituen Dewan Pers.

Teguh mengatakan, pihaknya akan mengikuti pesan yang disampaikan Ketua Dewan Pers dengan serius.

"Upgrading terhadap pekerja pers memang harus terus dilakukan agar masyarakat dapat mengenali dengan baik karya jurnalistik produk media siber dan pernyataan-pernyataan yang disampaikan media sosial," ujar Teguh. (GUNG)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek