Pendidikan
Kamis 30 Juli 2020 22:18
Terkendala jaringan internet, siswa di daerah kesulitan belajar sistem daring. (FOTO: Antara)
\"Share

TANGERANG - Pandemik covid-19 turut serta membuat dunia pendidikan goyah. Tahun pelajaran baru ‘terpaksa’ menggunakan sistem daring alias online. Dan bagi wilayah yang masuk zona hijau diperkenankan melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan.

Hal ini dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia, dengan tujuan guna menekan penyebaran virus corona selain dengan jalan penerapan sosial berskala besar [PSBB].

Namun, pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring itu tuai masalah diantaranya, bagi wilayah-wilayah yang tidak terjangkau jaringan internet dan siswa juga para orang tua wali murid tidak semua bisa mengakses internet alias terkendala, berbagai faktor.

BACA JUGA: Komisi II Minta Polisi Usut Hilangnya Dana Bansos PKH

Pro kontra kegiatan belajar mengajar (KBM) tahun pelajaran baru dengan sistem daring ini terus bergulir. Ada yang setuju sistem pembelajaran jarak jauh dan sebagian lagi tidak sepakat. Pasalnya, sistem daring dinilai tidak seefektif dengan tatap muka.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRDD Kota Tangerang, Saeroji, mengatakan kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui daring dinilai banyak negatifnya, kendati demikian ia juga tak menapik ada sisi positifnya bagi para pelajar.

“Dampak negatifnya pertama, mental dari karakter anak-anak berubah, kedisiplinan, sopan santunya. Contoh misalnya yang semula mereka belajar (bersosialisasi) dengan langsung kesekolahan tidak menggunakan handphone, tapi sekarang mereka ‘dipaksa’ memegang hape,” ujar Saeroji.

Kedua, efektivitas dalam kegiatan belajar mengajar tatap muka atau langsung lebih efektif ketimbang sistem daring atau online, sambung Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Tangerang itu.

BACA JUGA: Dasco: Pembukaan Sekolah di Zona Merah Tidak Tepat

“Daring itu kan terbatas, hanya menyampaikan (misalnya) lewat video-video doang kan. Tidak bisa menjelaskan secara gamblang, anak tidak bisa bertanya kepada gurunya seperti tatap muka,” kata dia.

Sekarang pemerintah bisa saja menerapkan kegiatan belajar mengajar dengan sistem cluster, seperti dibagi dua [shif], menurutnya.

“Tinggal bagaimana protokol kesehatan diterapkan disana. Atau belajar bisa saja diterapkan di alam terbuka (out door) menggunakan media audio speaker, mungkin lebih kena,” ucap dia.

“Di out door anak-anak bisa sambil bermain, sambil belajar dengan alam. Juga kepada para guru harus mempunyai kreativitas lebih dan berinovasi,” demikian Saeroji mengakhiri door stop dengan awak media ini, di Gedung DPRD Kota Tangerang, Senin (27/07) kemarin.  (ZIE/GUNG)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek