Lapsus
Jumat 02 Februari 2024 13:28
Seorang pemain Debus sedang memainkan golok yang dihujamkan ke lenganya. (FOTO: dok-BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Debus Banten merupakan kesenian tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu dan terus dilestarikan sampai saat ini. Umumnya Debus Banten ini identik dengan penggunaan benda-benda tajam yang diaplikasikan pada pemain Debus dengan cara melukai diri sendiri, hebatnya meskipun terkena benda tajam, tubuh pemain Debus tidak terluka sama sekali dan tidak menyisakan sayatan benda tajam sedikitpun.

Apa kira-kira rahasia para pemain Debus yang bisa tahan terhadap benda tajam?

Konon katanya, kesenian Debus ini berkaitan dengan pengamalan Tarikat Rifaiyah yang dibawa oleh Nuruddin Ar-Raniry pada abad ke-16. Para pengikut Tarikat ini ketika sedang gembira yang tak terhingga karena bertatap muka dengan sang pencipta sehingga kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka.

Filosofi yang digunakan adalah "laa haula walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" yang artinya tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Atas izin Allah, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak ajan melukai mereka.

Di Banten sendiri, pada awalnya kesenian Debus berfungsi sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam, namun pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Debus digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda.

Sejarah Kesenian Debus

Saat masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651-1652, sengaja diciptakan latihan perang bagi prajurit Banten dengan menggunakan alat yang disebut Debus. Debus sebetulnya adalah salah satu alat yang terbuat dari besi sepanjang 40 cm yang pada bagian ujungnya dibuat runcing. Pada bagian pangkalnya diberi alas kayu yang diperkuat dengan lilitan pelat baja agar tidak mudah terbelah jika dipukul. Kata Debus merupakan perubahan arti dari kata tembus.

Selain Debus, ada pula alat lain yang digunakan seperti pedang, golok, keris, tombak dan sebagainya. Dalam latihan itu mereka berpasang-pasangan, kadang saling perang cambuk, kemudian dilakukan pula penusukan ke bagian-bagian tubuh, bahkan di palu bagian pangkalnya agar bisa menembus bagian-bagian tubuh yang ditusuk.  

Anehnya, walaupun tubuh pemain Debus tertembus alat itu, namun pemain Debus tidak merasa sakit dan tidak mengalami cedera, padahal hal yang dialaminya dilakukan dalam keadaan sadar. Ternyata rahasianya adalah permainan Debus dilakukan dengan memegang teguh prinsip ketabahan, keuletan dan keimanan yang kuat kepada Allah SWT, sehingga mereka dapat mengatasi segala ujian itu dan tidak tembus benda tajam.

Jadi, pada mulanya Debus diciptakan untuk mempertahankan negara atau peperangan karena Debus sudah ada sejak abad ke-17, tentu saja Debus termasuk permainan rakyat yang berusia cukup tua.

Adapun peralatan yang digunakan dalam permainan Debus yaitu: Debus dengan godo-nya, golok yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain Debus, pisau juga digunakan untuk mengiris tubuh pemain, bola lampu yang akan dikunyah atau dimakan, panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas kepala pemain, buah kelapa, minyak tanah dan lain sebagainya.

Dalam permainan Debus, terdapat alat musik pengiring selama permainan berlangsung, alat musik itu antara lain: Gendang besar dan gendang kecil, Rebana, Terompet, Seruling, Kecrek.

Kesenian Debus dimainkan oleh beberapa orang, terdiri dari Seorang Syekh (Pemimpin permainan), beberapa orang pezikir, pemain dan penabuh gendang. Sebelum pentas, biasanya pemain Debus meluangkan waktu satu sampai dua minggu melaksanakan pantangan-pantangan tertentu, agar selamat ketika melakukan pertunjukan, pantangan-pantangannya yaitu:

1. Tidak boleh minum-minuman keras
2. Tidak boleh berjudi
3. Tidak boleh mencuri
4. Tidak boleh tidur dengan istri atau perempuan lain dan lain sebagainya.


Adapun proses jalannya permainan Debus diawali dengan mengumandangkan beberapa lagu tradisional yaitu lagu pembuka atau gembung, setelah gembung berakhir dilanjutkan dengan pembacaan Dzikir dan Macapat.  

Macapat berisi puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah agar mendapat keselamatan selama mempertunjukkan Debus.

Setelah Dzikir dan Macapat selesai, maka dilanjutkan dengan permainan pencak silat yang ditampilkan oleh satu atau dua pemain tanpa menggunakan senjata tajam.

Kegiatan selanjutnya yaitu permainan Debus itu sendiri yang berupa berbagai macam atraksi seperti:

1. Menusuk perut dengan menggunakan Debus
2. Mengupas buah kelapa dan memecahkannya dengan cara dibenturkan ke kepala sendiri
3. Memotong buah kelapa dan membakarnya di atas kepala 4. Menggoreng telur dan kerupuk di atas kepala
5. Menyayat tubuh dengan senjata tajam seperti golok dan pisau.
6. Membakar tubuh dengan minyak tanah atau berjalan-jalan di atas bara api.
7. Memakan kaca atau bola lampu.
8. Memanjat tangga yang anak tangganya adalah mata golok-golok tajam tanpa alas kaki dan menyiram tubuh dengan air keras.


Sebagai tambahan, pada atraksi penusukan perut menggunakan Debus, seorang pemain memegang Debus yang ujungnya runcing, kemudian ditempelkan ke perut pemain lainnya. Setelah itu, seorang pemain lain akan memegang kayu dan memukul pemain lainnya atau yang disebut gada, kemudian pemain Debus memukul bagian pangkal Debus berkali-kali.

Apabila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan pemain terluka maka Syekh akan menyembuhkannya dengan mengusap bagian tubuh yang terluka, disertai dengan membaca mantra-mantra sehingga bagian yang terluka dapat sembuh seketika. Berikutnya, ketika atraksi penyayatan tubuh dengan golok dan pisau dilakukan, maka pemain akan menusukkan senjata tersebut ke beberapa bagian tubuhnya, seperti leher, perut, tangan, lengan dan paha.

Segala jenis atraksi Debus dilakukan dengan mengucapkan doa agar tubuh pemain Debus kebal dari senjata tajam. Sebagai informasi, kesenian Debus Banten sudah masuk dalam Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Kemendikbusristek RI.

Sumber : Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek