Lapsus
Kamis 23 Juli 2020 22:34
Komarullah digendong Sania disela ia bercerita tentang kondisi sang buah hati, Kamis (23/07). (BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

TANGERANG - Hari ini, Kamis (23/07) tepat perayaan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2020. Tentu para orang tua berharap anak-anaknya hidup dengan sehat, ceria nan bahagia.

Namun, tidak demikian dengan pasangan Uus (40) dan Sania (28) punya anak menderita hidrosefalus, perayaan Hari Anak Nasional ini seperti tidak berarti bagi pasangan asal Pamijahan, Tasikmalaya Jawa Barat, yang kini tinggal di Kota Tangerang sejak 10 tahun silam.   

Bukankah sejak anak ketiga mereka lahir selalu dirundung kesedihan dan kesedihan?  Benar, selama sembilan bulan usia anak ketiganya itu, maka selama itu pula air mata mereka kerap jatuh ke bumi.

Anak itu diberi nama Komarullah kini menginjak usia 9 bulan. Ketika anak laki-laki itu lahir, Sania sang ibu menangis pilu. Sebab sang buah hati yang dinantinya itu lahir tidak sempurna sementara dimasa dalam kandungan berjalan normal.

Hasil diagnosa Komarullah menderita hidrosefalus. Kepalanya tampak besar, bagian atas kepalanya seperti tidak memiliki batok kepala. Selain menderita hidrosefalus, mata sebelah kiri anak itu setengah tertutup atau rapat dan seperti tidak punya bola mata.

Tidak hanya itu, hidung sebelah kiri Komarullah juga belah dan tidak memiliki batang hidung, sehingga hidungnya itu membentuk coakan. Bibirnya pun sumbing dan kaki sebelah kiri bengkok.

BACA JUGA: 'Pulau' di Kota Tangerang Ini Disulap Menjadi Lokasi Ketahanan Pangan

Selain itu, hampir setiap saat, dari hidung Komarullah selalu keluar cairan putih yang mirip-mirip ingus. Katanya ada kemungkinan cairan tersebut dari kepalanya yang terus membengkak dan membengkak akibat derita hidrosefalus ini.   

“Saya nangis dan saya gak kuat waktu lihat anak saya lahir. Tetapi mau bagaimana lagi. Anak saya tetap ciptaan Allah SWT. Saya menerima anak saya seperti ini. Saya ikhlas,” ungkap Sania saat berbincang dengan awak media ini, di Kawasan Pusat Pemerintah Kota Tangerang, Kamis (23/07).

Dirinya mengaku sedih melihat kenyataan anaknya seperti itu. Meski demikian bersama suaminya pasrah ikhlas dan terus berjuang. “Ini rezeki yang sudah diberikan Allah SWT kepada saya. Saya pasrah, saya ikhlas,” ucapnya dengan nada pilu mata berkaca-kaca menahan sedak.  

Sania, selama berbicara seperti berusaha menahan air matanya agar tidak memberiak ini, betul-betul menginginkan anaknya sehat seperti anak-anak  lain yang lahir sempurna dan sehat.

Kata Sonia, Komarullah tak henti-hentinya berurusan dengan rumah sakit. Ketika dibawa ke Rumah Sakit Sitanala, ia sempat ditolak. Dibawa ke RSUD Kabupaten Tangerang, ia dirujuk ke Rumah Sakit Siloam. Tentu memakan biaya yang menguras kantong, sementara mereka dari ekonomi pas-pasan.   

“Sekarang saya harus bolak-balik ke Rumah Sakit Siloam  yang ada di Lippo itu. Lumayan capek sekali,” ujar Sania dengan nada suaranya terdengar lebih lirih.

“Bolak-balik ke rumah sakit membutuhkan biaya, sedangkan saya hanya menunggu warung milik saudara saya jualan kopi. Kalau suami saya hanya tukang sapu (harian) di disini (Puspem),” ungkap Sania.

BACA JUGA: Ramaikan Hari Anak Nasional Budi Euy Luncurkan Lagu Aku Suka Dongeng

Sania bersama suami dan tiga anaknya tinggal di sebuah gubuk bersama dengan para petani urban yang menggarap lahan pertanian di lahan tidur di Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Tangerang.

Tempat tinggal Sania digubuk itu sangat dekat dengan Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangerang.  “Saya tinggal di Kota Tangerang sudah hampir 10 tahun,” kata Sania asal Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat ini.

Sambil menggendong anaknya itu, Sania berusaha tampak tabah. Dalam hidupnya seperti tidak memiliki cita-cita lain, kecuali anaknya yang lahir tidak sempurna itu bisa cepat dengan sembuh. Dan menunggu uluran tangan-tangan para dermawan.

“Allhamdulillah banyak bantuan dari sini. Teman-teman bapaknya suka bantu kami,” kata dia.

“Harapan saya mudah-mudahan anak saya lekas sehat, sembuh. Dan ada orang-orang baik yang bisa membantu untuk mengobati anak saya,” demikian Sania yang mengaku anaknya itu harus segera diambil tindakan, dioperasi dibeberapa bagian.

Antaranya, kepala, bagian muka dan jantung. Karena pusar Komarullah pun berada di dekat jantung bukan dibawah perut seperti pada umumnya. Selama pengobatan ini Sania mengaku menggunakan BPJS Kesehatan. (BUD/ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek