Lapsus
Senin 09 Januari 2023 08:57
Komunikolog Politik dan Hukum Nasional Tamil Selvan. (FOTO: Dok-BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) menjadi isu rutin menjelang tahun politik. Banyak pihak yang mengunakan isu ini untuk mendulang suara secara elektoral. Terakhir, Walikota Medan Bobby Nasution menyatakan bahwa Kota Medan anti LGBT.

Bahkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru turut memaktumkan larangan LGBT dengan diksi melarang perbuatan cabul baik sesama jenis maupun berbeda jenis.

Komunikolog Politik dan Hukum Nasional Tamil Selvan mengatakan bahwa secara konstitusi, Indonesia anti LGBT. Ia mengatakan diatas segala norma dan aturan, Indonesia berlandaskan Pancasila.

"LGBT tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa," tegas Tamil dalam keterangan tertulis kepada BantenExpres, Ahad (08/01).

"Ketuhanan yang Maha Esa itu kongkritnya diimplementasikan dalam agama, dan tidak ada satu pun agama di Indonesia yang memperbolehkan LGBT," imbuh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara ini.

Menurutnya, jelas Indonesia anti LGBT secara konstitusi. Karena sama halnya dengan membunuh, agama menjadi salah satu landasan mengapa membunuh dilarang, sebab dilarang oleh seluruh agama di Indonesia sehingga di kodifikasi menjadi hukum baku.

Pria yang membidangi Komunikasi Lintas Budaya ini juga menyayangkan adanya pihak yang mencari pembenaran tentang keberadaan LGBT dengan berbagai fenomena adat di masa lampau juga selalu berlindung dibalik tirai Hak Asasi Manusia (HAM).

"Dulu ada sebagian suku di Indonesia yang kanibal, apakah itu menjadi pembenaran jika saat ini manusia masih makan manusia? Jadi penarikan alasan adat itu konyol dan goblok. Justru dengan adanya LGBT itu menciderai HAM masyarakat secara umum, jadi jangan berakting seolah kaum LGBT ini adalah korban padahal mereka pelaku utama dalam penyelewengan kodrat," beber dia.

Lebih lanjut pria yang akrab di sapa Kang Tamil ini juga mengatakan bahwa orientasi seksual seseorang, terlepas apakah seseorang itu normal atau menganut paham LGBT harus berada di ranah privat dan akan menjadi konflik jika diumbar ke ranah publik.

"Yang normal saja jika diumbar keruang publik, itu menyalahi norma adat ketimuran kita. Jadi para politisi jangan jadi pecundang dengan seolah mendukung LGBT ini untuk elektoral pribadi dan partainya. Indonesia ini Pancasila, bukan negara liberal, jadi tidak ada tempat bagi LGBT di Indonesia," demikian Tamil Selvan.

(GUNG)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek