Lapsus
Kamis 27 Desember 2018 10:49
Mahmudin Direktur LEMP4K Nusantara. (BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

TANGERANG – Lembaga Pusat Pengkajian Pendidikan Pemerintahan dan Kesehatan (LEMP4K) Nusantara, berharap, Walikota/Wakil Walikota Tangerang, Arief Wismansyah dan Sachrudin memimpin Kota Tangerang pada ‘jilid kedua’ ini tidak lagi melakukan sebuah kesalahan atau kekurangan.

“Artinya kekurangan dan kesalahan terdahulu [jilid pertama] itu harus menjadi pembelajaran. Dan juga Arief-Sachrudin selaku pimpinan daerah harus menerima kritisi-kritisi yang masuk dari publik, maupun elemen-elemen masyarakat lainnya,” kata Mahmudin Direktur LEMP4K Nusantara.

Salah satunya, kata dia, saat ini persoalan pendidikan di kota seribu industri dan jasa ini adalah sangat mendasar khususnya pada masyarakat paling bawah. Terutama pendidikan diwilayah tingkat sekolah-sekolah negeri.

Menurut Mahmudin, masyarakat bawah ingin sekali sekolah dengan biaya yang terjangkau meski pemeritah sudah menggratiskan biaya sekolah. Namun, untuk sekolah negeri masih banyak tingkatan-tingkatan sekolah yang tidak teralokasi dengan baik disetiap tingkat kelurahan atau kecamatan, belum lagi sekolah-sekolah swasta.

“Sementara disetiap wilayah (kecamatan) itu ada hanya terdiri satu atau dua sekolah, sedangkan jumlah penduduk diwilayah tersebut cukup padat. Dan ini sudah tiga tahun berturut-turut menjadi probelmatika penerimaan siswa baru, khususnya tingkat SD dan SMP yang dinaungi Pemda Kota Tangerang, selalu bermasalah,” ujar dia.

Permasalahan yang muncul adalah, sambung Mahmudin, pada pembagian porsi persentasi dan zonasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Dan juga sering munculnya perbedaan persepsi, antara kebijakaan level pimpinan daerah sampai kepada panitia penerimaan peserta didik baru, ini tidak sama.

“Belum lagi banyak celah yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum, dari tingkat RT RW dan berbagai pihak yang merasa punya kepentingan. Akhirnya sebuah nilai kebanggaan masuk ke sekolah negeri terabaikan, sebuah kebanggaan mempunyai prestasi bisa masuk kesekolah negeri ini juga hilang,” kata dia.

Menurutnya lagi, lulusan dari sekolah negeri tidak lagi mempunyai nilai jual. Karena masuk sekolah negeri dibuat seolah akal-akalan semata, banyak teknik-teknik yang dimainkan oleh level bawah, seperti permasalahan munculnya SKTM dan lainnya.

“Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) ini betul memang membantu sebagian kelompok masyarakat. Tetapi buat anak-anak yang mempunyai prestasi, yang mempunyai perjuangan untuk masuk ke sekolah negeri, lagi-lagi ini seolah-olah menjadi tidak bermanfaat. Karena tidak punya peluang, karena dianggap presentasi zonasi sangat sedikit kuwotanya,” paparnya.

Kedepan, ia berharap Pemda Kota Tangerang memperhatikan serius pendidikan yang benar-benar dirasakan betul oleh seluruh lapisan masyarakat, tentunya yang berkeadilan. Bukan karena mereka punya kenalan pejabat, punya banyak uang mereka bisa menikmati sekolah negeri, sementara anak-anak berprestasi yang tidak mampu terabaikan, lanjut dia.

Selain itu, pihaknya (LEMP4K) juga minta Pemda Kota Tangerang bisa membuat regulasi atau Perda (Peraturan Daerah) tekait dengan pembatasan-pembatasan tenaga asing dari luar. Dia menilai sudah banyak tenaga (SDM) dari dalam, nilai investasi itu sangat penting dari luar untuk masuk Kota Tangerang. Tetapi membangun budaya membangun sebuah potensi yang ada di masyarakat asli di Kota Tangerang, itu lebih penting, menurutnya lagi.

“Sekarang Kota Tangerang tinggal menata tinggal mengatur, karena investasi sudah masuk cukup besar. Jangan sampai Kota Tangerang menjadi kota yang dimiliki oleh aset luar, hanya statusnya saja Kota Tangerang dipimpin oleh Walikota tetapi secara kepemilikan aset ternyata lebih banyak dari luar. Jangan senang satu hari ternyata merasakan kesusahan selamanya,” jelasnya.

“Karena sekarang yang dirasakan, sudah mulai tidak terkontrol dan tidak ada pembatasan tentang aset-aset atau invetasi dari luar. Yang akhirnya membuat masyarakat kita yang asli, masyarakat pribumi menjadi penonton. Kota Tangerang buat orang-orang diluar sana, Kota Tangerang adalah daerah dollar, tapi buat siapa, dinikmati oleh siapa, banyaknya Mal-mal besar dinikmati oleh siapa?,” Mahmudin mengakhiri kepada awak media ini, seusai acara resepsi Arief Wismansyah dan Sachrudin untuk yang kedua kalinya menjadi Walikota dan Wakil Walikota Tangerang, di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Rabu (26/12) sore. (ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek