Ekonomi
Selasa 20 November 2018 08:04
Keberadaan Bank-Bank keliling kerap dicap sebagai rentenir. (FOTO: NET-Ilustrasi)
\"Share

TANGERANG – Akibat hutang bisa membuat seseorang terjerat dan terjerumus dalam lubang kesengsaraan. Bahkan bisa mengakibatkan kematian karena stres memikirkan cicilan dan kreditan.

Apalagi sampai berhutang kepada para rentenir yang dapat mencekik kehidupan, dengan bunga yang sangat fantastis besar. Selain Bank-Bank konvensional kini marak keberadaan “Bangke” alias Bank Keliling ditengah-tengah masyarakat.

“Bangke ini sudah sangat meresahkan, mencekik masyarakat, uang dapur habis tutup sana tutup sini, penyakit ini “Bangke”!,” cetus Ahmad Satiri seorang warga Karawaci.

Hal tersebut disampaikan Satiri saat menghadiri masa reses anggota DPRD Kota Tangerang asal PKS, Tengku Iwan, di RT.03/02 jalan Haji Sa'alan, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Senin (19/11) malam.

Dia pun meminta kepada wakil rakyat ini agar keberadaan "Bangke" dibasmi, pasalnya sudah sangat meresahkan dan merugikan hingga bikin stres para suami, menurut dia. “Saya mantan Ketua RT dan RW, bahkan ada yang meninggal akibat “Bangke” ini, stres akibat hutang. Saya tahu karena sekarang saya pengurus amil,” ungkap dia disambut tawa warga malam itu.

Ditambah lagi kebanyakan para ibu-ibu yang menjadi sasaran “Bangke” dan bikin pusing kaum Bapak-bapak, uang dapur bertambah, lanjut dia.

Satiri yang diketahui telah menjabat Ketua RT selama 16 tahun dan Ketua RW dua periode, juga mengungkap kepada awak media ini, bahwa tidak hanya di wilayah Koang Jaya saja keberadaan dan praktik-praktik “Bangke”, tetapi diwilayah lainnya seperti di Paburan dan Gerendeng Karawaci.

“Karena caranya mengambil pinjaman dari “Bangke” ini mudah sih, cukup dengan foto kopi KTP, uang langsung turun. Tetapi itu pun ternyata tidak full ada potonganya, yang saya tahu pinjam Rp.100 ribu tetapi cairnya paling Rp.80 ribu, sementara bayarnya bisa lebih dari pijaman tersebut,” ungkap dia.

Karena sudah meresahkan dan membebani masyarakat, dia pun meminta kepada Pemerintah Kota Tangerang agar keberadaan “Bangke” itu segera ditiadakan atau bila perlu dibina.

“Mudah-mudahan pemerintah Kota Tangerang dan para wakil rakyat bisa memberikan solusi persoalan ini, agar warga tidak terus tercekik “Bangke” karena bunganya besar,” timpal warga lainnya.

Sementara, Tengku Iwan sendiri akan menyampaikan aspirasi warga asal dapilnya ini kepada pemerintah Kota Tangerang. “Yah nanti kita bawa persoalan ini ke pemerintah. Selain itu coba bapak-bapaknya juga dapat mengontrol para isterinya untuk tidak meminjam ke mereka (Bangke), dan berdoa terlepas dari segala hutang,” ucap dia.  

Operasi “Bangke” biasanya menyasar di penduduk tingkat bawah dengan cara kerja setiap hari, keliling dari gang ke gang, dari kampung ke kampung lainnya dengan menawarkan pinjaman bervariasi, dari Rp.100 ribu hingga jutaan rupiah. (ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek