Lapsus
Minggu 15 Desember 2019 17:02
Pencak silat kerap dimainkan dalam setiap event festival budaya. (BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

BANTENEXPRES - Pencak silat merupakan cabang olahraga (cabor) beladiri asli warisan budaya Indonesia. Nenek Moyang bangsa Indonesia dahulu menggunakan pencak silat untuk melindungi diri dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam. 

Mereka menciptakan beladiri ini dengan menirukan gerakan hewan yang ada di alam sekitar. Seperti gerakan Kera, Harimau, Ular, ataupun Burung elang. Tak heran kemudian banyak jurus-jurus dalam silat menggunakan nama hewan tersebut. Ada jurus Kera, Harimau, dan lainnya.

Suku-suku yang ada di Indonesia kemudian memadukannya dengan senjata, seperti tombak, golok, perisai. Sejumlah alat tersebut digunakan untuk berburu hewan maupun berperang antar suku. Hal ini juga dinilai mempengaruhi perkembangan pencak silat selanjutnya.

Diperkirakan abad Ke-7 masehi beladiri silat berkembang di nusantara. Dalam relief candi Borobudur, juga ditemukan gerakan seperti kuda-kuda sebagai gerakan dasar pencak silat. Kemudian berkembang di rumpun Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. 

BACA JUGA: Ketua DPRD Kota Tangerang Akan Libatkan Masyarakat Buat Perda

Pencak silat terus berkembang, pada abad 14 disebarkan oleh para Da'i atau penyebar Agama Islam. Mereka menggabungkan antara ilmu Agama dan pencak silat yang diajarkan baik itu di surau ataupun pesantren yang menjadi pusat perkebunan agama Islam. Kini seiring perkembangan zaman silat terus berkembang. Salah satunya adalah saat silat resmi dipertandingkan di Asian Games 2018 yang digelar di Indonesia.

Sebelum dimainkan di Asian Games 2018 lalu. Para pegiat pencak silat Indonesia juga terus berjuang agar cabor itu diakui dunia internasional. Banyak pelatih pencak silat Indonesia yang dikirim ke berbagai negara. Berharap banyak negara mengenal dan akhirnya mempelajari Silat. Hal ini cukup berhasil dengan banyaknya atlet pencak silat dari negara lain yang mampu mencetak prestasi internasional.

Selain dari sisi olahraga, banyak yang memperjuangkan silat agar diakui oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage).

Usaha yang dirintis sekitar tahun 2014 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Serta, banyak pihak lainnya yang memeprjuangkan. UNESCO akhirnya menetapkannya pada Kamis (12/12) lalu di Bogota, Kolombia.

Seperti dikutip laman Republikaonline, UNESCO menetapkan pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda melalui sidang ke-14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang diselenggarakan di Bogota, Kolombia. Acara tersebut berlangsung sejak 9 Desember 2019 hingga 14 Desember 2019. (ROL)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek