Politik
Kamis 04 Maret 2021 17:48
Peneliti Bidang Perkembangan Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Lili Romli. (FOTO: Facebook)
\"Share

BANTENEXPRES - Pilkada serentak tanah air masih diwacanakan pada tahun 2024 mendatang. Namun, partai-partai politik nampak telah bergeliat memasang kuda-kuda untuk melangkah ke arah pesta demokrasi tersebut.

Halnya dengan Partai Demokrat baru-baru ini lewat Ketua Badan Pemilunya (Bapilu), sudah merilis kader-kader terbaiknya guna dipersiapkan maju pada pilkada, seperti untuk Jawa Barat dan Provinsi Banten.

Di tanah Jawara Banten muncul tokoh-tokoh dari partai berlambang Mercy ini antara lain, Ketua DPD Demokrat Banten Iti Octavia Jayabaya yang juga Bupati Lebak, Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah.

Nama-nama tersebut dipersiapkan internal partai yang saat ini diketahui tengah diterpa gonjang-ganjing tak sedap hingga isu kudeta.

Peneliti Bidang Perkembangan Politik Nasional LIPI, Prof DR Lili Romli berpendapat, munculnya kader-kader Partai Demokrat untuk Pilgub Banten mendatang itu dinilai sebagai political marketing.

"Masiih jauh-jauh hari pilkada ini, dalam kontek political marketing untuk para kandidat. Bahwa inilah kandidat Demokrat yang siap dimajukan," ujar Prof Lili dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (04/03).

Doktor lulusan ilmu politik UI ini berkata, political marketing akan berdampak pada partai Demokrat, dengan tujuan untuk bisa mempengaruhi publik dan bisa terkenal.

"Yang kemudian akan berdampak pada electoral vote. Karena tokoh-tokoh (kandidat) itu dianggap sebagai penarik suara atau vote gater, juga sebagai simbol dari tokoh-tokoh Demokrat di Banten," kata dia.

"Bahwa ini luar biasa ada tokoh-tokoh Banten Demokrat, ada Gubernur, Walikota dan Bupati," lanjut Prof Lili kepada reporter BantenExpres.

Pria kelahiran Pontang Serang Banten ini juga berpendapat, Partai Demokrat menyebutkan atau memunculkan para kandidat tersebut sangatlah wajar.

"Sebenarnnya hal yang wajar dan memang harus mengusung kader-kadernya. Seperti Wahidin Halim (WH) ini seorang petahana atau incumbent," ucap Prof Lili yang juga pengurus pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia.

Namun demikian, menurutnya adalah suatu kesalahan besar bila Partai Demokrat tidak mengusung WH yang telah banyak meraih prestasi dan keberhasilan selama menjadi Gubernur.

"WH punya prestasi dan banyak meraih keberhasilan. Di pelayanan publik, reformasi birokrsi dan penghargaan dari KPK," kata dia yang pernah menjabat Staff Ahli bidang politik di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

"Kalau Demokrat gak mencantumkan namanya bisa diambil partai lain. Petahana kan punya keunggulan-keunggulan di banding yang bukan incumbent," ujar dia lagi.

Ketua ICMI Banten ini juga mengatakan kandidat lainnya seperti Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, juga harus di calonkan Demokrat.

"Kalau tidak, bisa lari dan dicaplok orang lain. Apalagi sekarang Demokrat lagi gonjang ganjing dipusat," cetusnya.

Meski perhelatan pilkada masih jauh, Prof Lili menilai langkah yang dilakukan Partai Demokrat memunculkan para kandidat ini sengaja dilakukan Demokrat dan merupakan bagian dari strategi.

"Ini sengaja dilakukan Demokrat, bagian dari strategi dari Demokrat untuk memunculkan kader-kadernya. Ini lho kader-kader Demokrat, bahwa mereka (kandidat) bagian dari Demokrat agar juga mereka tidak terpecah. Kalau pecah bisa merugikan Demokrat," tutur dia saat ditanya apakah langkah Demokrat itu prematur.

Sementara ketika disinggung apakah kader-kader Partai Demokrat di Banten masih solid dan tidak terpengaruh dengan gonjang-ganjing di pusat, menurut Prof Lili bisa saja itu terjadi.

"Bisa jadi, tetapi kan tidak muncul kepermukaan. Maka pusat segera mengumumkan para tokoh-tokoh (kandidat) diatas, supaya tidak pecah," imbuh ayah dari empat orang anak tersebut.

"Itu sebagai jalan moderat, jalan tengah agar menghindari perpecahan. Kalau tidak diumumkan salah satu, yang satunya bisa non resistensi, kenapa begitu," kata dia.

Adapun peluang Ketua DPD Partai Demokrat Banten Iti Octavia Jayabaya untuk dicalonkan menjadi Gubernur Banten menurutnya lagi tetap berpeluang.

"Sebagai ketua DPD peluang ada. Tetapi kan pada akhirnya diputuskan dan biasanya dalam pilakada lewat elektabilitas dan hasil survei. Kedua juga terkait dengan bergaining dengan partai lain, karena Demokrat kan juga tidak bisa maju sendiri harus koalisi dengan lainnya, pertama adalah kekuatan elektabilitasnya," paparnya.

Dari kandidat-kandidat itu, ia menduga WH berpeluang lebih tinggi karena salah satunya seorang incumbent. "Kalau pemilu dilaksanakan 2022," ujarnya.

Tapi kalau pemilu dilaksanakan pada 2024 bisa saja peta itu berubah, pasalnya mereka masing-masing sudah tidak lagi menjabat. Baik Iti, Arief maupun WH sudah habis, sambung dia.

Disisi lain, hubungan Gubernur Banten Wahidin Halim dengan Wakilnya Andika Hazrumy dari pandangan Prof Lili, hingga kini keduanya masih terlihat harmonis.

"Kalau dipermukaan kan harmonis, kan kita melihatnya dipermukaan. Disana ada pembagian tugas, yah gak tahu kalau di dalamnya," jawab dia saat ditanya hubungan WH-Andika sampai sekarang.

Maka menurutnya, peluang mereka bergandengan lagi tinggi. "Bagaimanapun lebih baik bersatu dari pada berpisah. Keduanya (WH-Andika) perpaduan ideal, WH wakil dari Tangerang dan Andika mewakili Banten barat," ucapnya.

"Juga keduanya perpaduan dua partai tadi, Demokrat dan Golkar peluang untuk maju cukup tinggi. Dan mereka sama-sama masih menjabat," kata dia.

"Secara kinerja saya kira mereka berprestasi, bisa diukur dengan penghargaan-penghargaan itu. Reformasi birokrasinya, pelayanan publiknya, penghargaan dari KPK dan lain sebagainya," ungkap dia.

Sebagai putera daerah, Prof Lili sendiri apa tidak tertarik di Pilgub Banten?. "Mungkin jawabnya seperti Arief Wismansyah (tidak kepengen jadi Gubernur)," jawab dia sembari tertawa mengakhiri perbincangan.  (ZIE/MAN)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek