Lapsus
Sabtu 11 Januari 2020 09:04
Komjen Listyo Sigit Prabowo. (Dok-BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

BANTENEXPRES - Polri membentuk Satuan Tugas Penambangan Emas Tanpa Izin (Satgas PETI) untuk melakukan penyelidikan terhadap banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lebak, Banten.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo menjelaskan satgas itu sudah mulai bergerak sejak Kamis (09/01) kemarin.

"Kita bagi menjadi empat tim dari Bareskrim bergabung dengan Polda Bogor dan Banten dan anggota Brimob," kata dia saat ditemui wartawan di Pusat Latihan Multifungsi Polri, Gunung Putri, Bogor, Jumat (10/01).

Listyo, yang juga mantan Kapolda Banten ini menduga bahwa penambangan ilegal menjadi salah satu penyebab banjir dan tanah longsor di Lebak.

"Informasi dari KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), kurang lebih ada 40 titik. Banyak banget memang, bolong-bolong begitu," jelas dia seperti dikutip laman CNNIndonesia.

BACA JUGA: Presiden Minta Gubernur Banten Hentikan Penambangan Emas Ilegal di Lebak

Dia juga mengaku akan melakukan penutupan terhadap tambang-tambang ilegal sebagai langkah awal penyelidikan. "Setelah itu kita mencari tersangka-tersangkanya," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengaku tengah mengkaji sanksi yang bakal dijatuhkan pada penambang emas ilegal di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Seperti diketahui juga, Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan Gubernur Banten Wahidin Halim dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya untuk menghentikan aktivitas penambangan emas ilegal di Lebak itu.

"Kami minta ke depan tidak ada lagi penambang emas ilegal di kawasan TNGHS itu," kata Presiden saat meninjau lokasi pengungsi di Ponpes Latansa, Selasa (07/01).

BACA JUGA: Banjir di Lebak 245 Hektare Sawah Terdampak, Para Petani Meradang

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyebut longsor dan banjir bandang di Lebak, Banten, disebabkan penambangan di kawasan hulu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Akibatnya, ribuan rumah di pesisir Sungai Ciberang mengalami kerusakan.

"Laporan dari kepolisian Banten, penyebab utama selain hujan lebat di hulu adalah sejumlah tambang yang pecah," kata Kepala BNPB Doni Monardo di Kecamatan Lebak Gedong, Lebak, Banten, Sabtu (04/01) lalu.

Tambang yang ditinggalkan warga, lanjutnya, ambrol dan mengakibatkan longsor dan membawa luapan lumur dan menyapu sepanjang aluran Sungai Ciberang. Dampak yang ditimbulkan cukup masif merusak permukiman yang ada di pinggir sungai.

"Inilah yang menyapu sepanjang daerah Sungai Ciberang dan menimbulkan kerugian cukup masif, tidak kurang 1.000-an rumah yang statusnya rusak berat, sebagian besar hanyut," kata mantan jenderal elit Kopasus ini.

Akibat terjangan banjir bandang di Kabupaten Lebak ini sebanyak 19 sekolah rusak. Kemudian 30 jembatan dan  jalan juga mengalami kerusakan yang kerugiannya ditaksir mencapai Rp90 miliar. (GUNG/RHMT)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek