Ekonomi
Rabu 17 Februari 2021 21:33
Buruh Garteks KSBSI Tangerang pada kesempatan aksi unras di Disnaker setempat. (FOTO: Dok-BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Setahun berlalu wabah pandemi COVID-19 melanda negeri, berbagai sektor terdampak hebat mengakibatkan sendi-sendi aktivitas berhenti. Meninggalkan berbagai macam persoalan hingga kini, kesehatan pendidikan hingga industri melandai.

"Pandemi Covid ini sebuah musibah yang tidak terduga oleh siapapun. Bisa jadi karena salah satunya tidak ada kesiapan dari pemerintah dalam menghadapi ini, yang sebelumnya virus ini menyerang negara Tirai Bambu--Wuhan," ujar Sekjend DPP FSB Garteks, Trisnur Priyatno kepada BantenExpres di Tangerang, Rabu (17/02).

Kita terpesona dan terpedaya dengan iklim yang ada di Indonesia dengan beberapa pihak menyatakan virus itu akan mati di cuaca yang panas, tapi realita virus lintas iklim, sambung dia.

Menurutnya, dampak pada industri di fase pertama hanya menyasar sektor manufaktur, dimana banyak perusahaan disektor manufaktur mengalami banyak masalah. Dan pada fase kedua dampaknya bukan hanya sektor manufaktur lagi tapi hampir semua sektor.

"Baik untuk kontrak bisnis yang di tinjau ulang, bahkan dibatalkan. Ada juga kesulitan bahan baku (material) sementara produksi terus berjalan tapi bahan baku di gudang semakin sedikit, dan material impor tidak bisa masuk ke Indonesia," ungkap aktivis buruh ini.

Sehingga dampak domino dari itu semua perusahaan banyak mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak populis bagi kaum buruh, yaitu dengan merumahkan sebagian pekerjanya, mengurangi hari dan jam kerja, memutus kontrak terhadap buruh walaupun belum selesai masa kontraknya.

Timbul persoalan ketika mengambil kebijakan seperti yang disebut diatas, perusahaan lepas dari tanggung jawabnya dengan tidak membayarkan upah selama buruh dirumahkan, atau dibayar hanya 50 persen dari upah yang selama ini diterima. Memberikan hak pesangon bagi yang di PHK dengan nilai jauh dari regulasi, menyelesaikan kontrak sebelum masanya berakhir dengan tidak membayarkan sisa kontraknya, menurut dia lagi.  

"Kita, (Garteks) sendiri pada pandemi satu tahun ini banyak sekali kehilangan anggota. Garteks kehilangan anggotanya kurang lebih 9000-an," ungkap Trisnur.  

Melihat fenomena ini, pihaknya merubah strategi pengorganisasian, yang sebelum pandemi menurutnya pengorganisasian dapat dilakukan dengan tatap muka, tapi di masa pandemi pengorganisasian yang dilakukan Garteks memanfaatkan teknologi yang ada dengan melakukan diskusi dan komunitas secara virtual.

"Dan hasilnya, kami pun di beberapa daerah mengalami penambahan jumlah anggota walaupun tidak signifikan. Artinya jumlah kehilangan dengan penambahan anggota baru sangat jauh, tapi minimal kami tetap eksis walaupun di masa wabah andemi ini," ucap dia.

Dalam masa pandemi, kata Trisnur, Garteks juga telah membuat posko-posko bantuan Covid-19, daerah-daerah memberikan bantuan sembako untuk anggota, membuka posko pengaduan penanganan dampak Covid secara cuma-cuma.

Garteks juga membangun jaringan dalam memperkuat pola advokasi dengan mengedepankan dialog sosial, jaringan yang di bangun Garteks bersama dengan federasi lain, juga dengan asosiasi-asosiasi pengusaha, dengan tujuan jika terjadi perselisihan penyelesaiannya mengutamakan dialog sosial terlebih dahulu (non litigasi) sebelum melakukan upaya litigasi, tambah dia.

"Garteks paham, jika saat ini bukan hanya mempertahankan eksistensi keanggotaan saja juga bagaimana membangun sinergitas dengan perusahaan  agar dapat mempertahankan keberlangsungan usahanya," demikian Trisnur. (ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek