Lapsus
Rabu 13 Oktober 2021 19:14
Aksi mahasiswa melakukan unjuk rasa di depan Kantor Bupati Tangerang, Tigaraksa, Rabu (13/10). (FOTO: BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Beredarnya video aksi oknum aparat kepolisian yang membanting seorang mahasiswa, saat melakukan pengamanan unjuk rasa oleh mahasiswa di depan Kantor Bupati Tangerang Tigaraksa, menjadi viral diberbagai platform media sosial. Seperti dipesan singkat What'sApp hingga Twitter.

Dalam video yang berdurasi 48 detik tersebut, memperlihatkan seorang aparat kepolisian tengah memiting seorang mahasiswa yang melakukan aksi. Bukan cuma itu, sejurus kemudian mahasiswa itu dibanting hingga terkapar ke lantai.

Video ini menjadi perbincangan diruang publik (sosial media) hingga menjadi trending topic di lini massa Twitter sesaat lalu. Aksi oknum aparat tersebut pun disebut dengan aksi 'Smackdown' oleh warganet di Twitter.

Pun beragam reaksi muncul menyikapi aksi oknum aparat kepolisian tersebut. Seperti akun KontraS dengan menuliskan:

"Dari video itu memperihatkan penggunaan kekuatan secara berlebihan yg dilakukan oleh anggota kepolisian Banten. Tidak sesuai dgn asas nesesitas, yang seharusnya penggunaan kekuatan dapat dilakukan bila memang diperlukan dan tidak dapat dihindarkan berdasarkan situasi yang dihadapi," cuit akun Kontras dilihat BantenExpres, Rabu (13/10).

"Apa yang dilakukan Kepolisian dalam video itu juga tak masuk akal. Tindakan kepolisian diambil dengan mempertimbangkan secara logis situasi dan kondisi dari ancaman atau perlawanan pelaku kejahatan terhadap petugas atau bahayanya terhadap masyarakat," sambung tuit @KontraS.

Juga akun Green Peace Indonesia memberikan cuitanya, dengan mengutuk dan mengecam kekerasan yang digunakan kepolisian dalam menangani aksi protes oleh mahasiswa tersebut.

"Kami mengutuk dan mengecam kekerasan yang digunakan kepolisian dalam menangani aksi protes damai dan mendesak penyelidikan menyeluruh. Mengemukakan pendapat adalah hak konstitusional warga negara yang harus dihormati. Tindakan aparat kepolisian dalam video ini sangat berlebihan," tulis akun @GreenPeaceIndonesia.

Sementara itu, Kapolresta Tangerang Kota Kombes Wahyu Sri Bintoro, mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terkait penindakan tersebut.

"Secara internal tetap akan saya evaluasi. Tim Propam akan melakukan evaluasi terhadap standar operasional prosedur (SOP) mengamankan massa," kata Kapolres kepada wartawan, Rabu (13/10) sore.

Wahyu menambahkan, hasil penilaian internal itu nantinya sebagai bahan untuk menindak anggota tersebut, bila terbukti adanya kesalahan SOP. Dia memastikan akan menindak petugas yang tidak mematuhi SOP.

"Sudah kita aplikasikan dengan baik SOP itu. Tapi masih ada perilaku oknum yang tidak baik. Tentu kita tindak tegas," tegas Kapolres Wahyu.

"Yang bersangkutan (mahasiswa-red) akan kita bawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan medis. Saya hanya memberikan info, jika yang bersangkutan masih bisa jalan," imbuh dia.

Diketahui aksi mahasiswa ini pada saat pelaksanaan HUT Kabupaten Tangerang Ke-389, Rabu (13/10). Kericuhan terjadi diduga saat puluhan mahasiswa Tangerang dari berbagai kelompok menggelar aksi dan tuntutan atas persoalan di Kabupaten Tangerang.

Para mahasiswa meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang segera menyelesaikan persoalannya di tuntutan massa aksi. Salah satunya persoalan Peraturan Bupati nomor 47 tahun 2018 tentang pembatasan jam operasional angkutan.
 
Namun, mereka terhalang oleh puluhan aparat keamanan untuk memasuki gedung tersebut, sehingga berujung saling dorong dengan aparat kepolisian. Usai saling dorong, beberapa mahasiswa diamankan aparat dari Polres Tangerang Kota.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI, Rano Al Fath, menyesalkan aksi oknum kepolisian tersebut.

"Saya pribadi sangat menyesalkan gaya smackdown yang dilakukan oknum polisi tersebut, dan saya minta Polri dalam hal ini Polda Banten bisa mengusut kejadian ini sampai tuntas," kata Rano dilansir laman Republika, Rabu (13/10).

Rano memahami kerja keras aparat keamanan dalam pengamanan demo, sehingga sering terpancing emosinya ketika di lapangan. Namun dirinya meyakini Kapolri tidak akan membiarkan anggotanya melakukan tindakan represif.

Wakil rakyat asal Dapil Banten III ini juga meyakini Kapolri ingin anggotanya humanis dan terukur dalam bertindak.  

"Menurut saya harus ada evaluasi mendalam dari Divpropam Polri terkait kasus ini, tindak tegas dan usut mengapa hal ini bisa terjadi," ujar dia. (GUNG/ZIE)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek