Kesehatan
Sabtu 30 Januari 2021 13:07
Ilustrasi - Pemkot Tangerang membagikan ribuan masker gratis kepada masyarakat. (FOTO: BantenExpres)
\"Share

JAKARTA - Coronavirus alias COVID-19 telah diketahui dapat menukar melalui tetsan atau droplet dari orang yang terinfeksi (positif).

Tidak Masuk Akal KENTUT bisa Menularkan COVID-19
BANTENEXPRES - Coronavirus alias Covid-19 telah diketahui dapat menular melalui tetesan atau droplet dari orang yang terinfeksi.
Baru-baru ini, pembahasan soal virus Covid-19 terdeteksi di dalam feses kembali jadi perbincangan seiring dengan metode swab anal yang mulai dilakukan di China.
Sebuah laporan di Washington Post mengatakan bahwa sebagian besar dokter China telah mendukung tes swab anal atas dasar bahwa pasien yang pulih terus dites positif melalui sampel dari anus beberapa hari setelah swab hidung dan tenggorokan sudah negatif.
Sebelum ini, seorang dokter di Australia, Andy Tagg menyebut penularan juga dapat terjadi melalui kentut karena adanya virus di feses tersebut.
Namun, apakah mungkin virus corona Covid-19 dapat menular lewat kentut?
Berdasarkan temuan Tagg, 55 persen pasien Covid-19 memiliki virus corona pada feses mereka. Kentut yang keluar melalui saluran BAB itu disebut juga mengandung kotoran yang dapat menyebarkan bakteri dan virus.
"Ya, SARS-CoV-2 dapat dideteksi dalam feses dan telah terdeteksi pada individu tanpa gejala hingga 17 hari pasca-paparan. Mungkin SARS-CoV-2 dapat disebarkan melalui kentut, kita membutuhkan lebih banyak bukti," ujar Tagg.
Namun, pernyataan Tagg itu sempat ditentang sejumlah ahli.
Menurut Direktur Klinis Patientaccess.com, dr Sarah Jarvis, sangat kecil kemungkinan seseorang akan tertular Covid-19 dari kentut.
"Kemungkinan seseorang tertular virus karena mereka dekat dengan seseorang yang kentut, sangat kecil," kata Jarvis, dikutip dari The Sun pada bulan lalu.
Dia lanjut mengatakan, "Anda jauh lebih mungkin untuk tertular melalui kontak dekat dengan seseorang yang batuk atau bersin, atau dengan menyentuh droplet di tanganmu ketika kamu menyentuh benda."
Dokter Norman Swan juga mengatakan tak perlu khawatir pada kentut karena terhalangi oleh celana.
"Kita selalu memakai masker (celana) yang menutup kentut kita setiap saat," kata Swan dalam podcast Coronacast di ABC.
Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit China pun mengatakan hal serupa bahwa celana merupakan penghalang kentut yang mungkin membawa virus.
Sepakat dengan pernyataan ahli tersebut, dokter spesialis paru, Erlang Samoedro menilai penularan virus corona melalui kentut sulit terjadi.
Ia mengatakan, virus ini memang ditemukan pada feses, tapi aerosolisasi ke udara bebas dinilai lebih kecil lantaran terhalang pakaian.
Kalaupun terdapat virus, toh orang telah mengenakan celana atau rok berbahan kain yang memungkinkan virus tersaring.
"Kalau mungkin [menular] melalui kentut ya memang mungkin, tapi practical less likely," tutur Erlang yang juga Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) dilansir CNNIndonesia kala itu.
"Sulit terjadi, karena kan kita pasti oakai celana atau kain yang menutupi. Sedangkan kalau dari mulut atau saluran napas--kalau tidak pakai masker--tidak tertutup sehingga change untuk terjadi penularan lebih tinggi," lanjut Erlang.
Kesangsian juga diungkapkan ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif. Ia mengatakan, virus corona memang boleh jadi ditemukan di feses orang yang positif terinfeksi Covid-19.
Hanya saja bagi dia, hipotesis yang muncul berupa penularan virus corona bisa terjadi melalui kentut itu tidak masuk akal.
"Omong kosong itu. Itu nggak benar, dan nggak masuk akal," cetus Syahrizal.
"Bahwa bisa jadi kita menemukan bahwa virus itu di feses, kalau itu sih saya merasa masih bisa. SARS juga waktu itu kita temukan di feses orang yang positif," jelas Syahrizal yang juga ahli kesehatan masyarakat tersebut.
"Sampai di situ kita bisa terima, tapi bahwa ditarik kesimpulan lalu dibuat hipotesis baru bahwa ketut bisa [menularkan], itu sih saya juga enggak yakin bagaimana caranya membuktikan asumsi itu," katanya.
Ia juga meragukan, asumsi itu bisa dibuktikan secara ilmiah melalui metode penelitian.
"Mau dari sisi prosesnya atau lainnya, itu tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya ketika ada pernyataan bahwa virus bisa menular dari asap rokok orang yang terinfeksi, ini juga nggak ada dasar ilmiahnya," tegasnya.
Sumber: CNNIndonesia

Baru-baru ini, pembahasan soal virus Covid-19 terdeteksi di dalam feses kembali jadi perbincangan seiring dengan metode swab anal yang mulai dilakukan di China.

Sebuah laporan di WashingtonPost mengatakan bahwa sebagian besar dokter China telah mendukung tes swab anal atas dasar bahwa pasien yang pulih terus dites positif melalui sampel dari anus beberapa hari setelah swab hidung dan tenggorokan sudah negatif.

Sebelum ini, seorang dokter di Australia, Andy Tagg menyebut penularan juga dapat terjadi melalui kentut karena adanya virus di feses tersebut.

Namun, apakah mungkin virus corona Covid-19 dapat menular lewat kentut?

Berdasarkan temuan Tagg, 55 persen pasien Covid-19 memiliki virus corona pada feses mereka. Kentut yang keluar melalui saluran BAB itu disebut juga mengandung kotoran yang dapat menyebarkan bakteri dan virus.

"Ya, SARS-CoV-2 dapat dideteksi dalam feses dan telah terdeteksi pada individu tanpa gejala hingga 17 hari pasca-paparan. Mungkin SARS-CoV-2 dapat disebarkan melalui kentut, kita membutuhkan lebih banyak bukti," ujar Tagg.

Namun, pernyataan Tagg itu sempat ditentang sejumlah ahli. Menurut Direktur Klinis Patientaccess.com, dr Sarah Jarvis, sangat kecil kemungkinan seseorang akan tertular Covid-19 dari kentut.

"Kemungkinan seseorang tertular virus karena mereka dekat dengan seseorang yang kentut, sangat kecil," kata Jarvis, dikutip dari TheSun pada bulan lalu.

Dia lanjut mengatakan, "Anda jauh lebih mungkin untuk tertular melalui kontak dekat dengan seseorang yang batuk atau bersin, atau dengan menyentuh droplet di tanganmu ketika kamu menyentuh benda."

Dokter Norman Swan juga mengatakan tak perlu khawatir pada kentut karena terhalangi oleh celana.

"Kita selalu memakai masker (celana) yang menutup kentut kita setiap saat," kata Swan dalam podcast Coronacast di ABC.

Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit China pun mengatakan hal serupa bahwa celana merupakan penghalang kentut yang mungkin membawa virus.

Sepakat dengan pernyataan ahli tersebut, dokter spesialis paru, Erlang Samoedro menilai penularan virus corona melalui kentut sulit terjadi.

Ia mengatakan, virus ini memang ditemukan pada feses, tapi aerosolisasi ke udara bebas dinilai lebih kecil lantaran terhalang pakaian.

Kalaupun terdapat virus, toh orang telah mengenakan celana atau rok berbahan kain yang memungkinkan virus tersaring.

"Kalau mungkin [menular] melalui kentut ya memang mungkin, tapi practical less likely," tutur Erlang yang juga Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) dilansir CNNIndonesia kala itu.

"Sulit terjadi, karena kan kita pasti pakai celana atau kain yang menutupi. Sedangkan kalau dari mulut atau saluran napas--kalau tidak pakai masker--tidak tertutup sehingga change untuk terjadi penularan lebih tinggi," lanjut Erlang.

Kesangsian juga diungkapkan ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif. Ia mengatakan, virus corona memang boleh jadi ditemukan di feses orang yang positif terinfeksi Covid-19.

Hanya saja bagi dia, hipotesis yang muncul berupa penularan virus corona bisa terjadi melalui kentut itu tidak masuk akal.

"Omong kosong itu. Itu nggak benar, dan nggak masuk akal," cetus Syahrizal.

"Bahwa bisa jadi kita menemukan bahwa virus itu di feses, kalau itu sih saya merasa masih bisa. SARS juga waktu itu kita temukan di feses orang yang positif," jelas Syahrizal yang juga ahli kesehatan masyarakat ini.

"Sampai di situ kita bisa terima, tapi bahwa ditarik kesimpulan lalu dibuat hipotesis baru bahwa ketut bisa [menularkan], itu sih saya juga enggak yakin bagaimana caranya membuktikan asumsi itu," katanya.

Ia juga meragukan, asumsi itu bisa dibuktikan secara ilmiah melalui metode penelitian.

"Mau dari sisi prosesnya atau lainnya, itu tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya ketika ada pernyataan bahwa virus bisa menular dari asap rokok orang yang terinfeksi, ini juga nggak ada dasar ilmiahnya," tegasnya. (***)

Sumber: CNNIndonesia

 

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek