Lapsus
Minggu 23 Desember 2018 02:48
Nampak air laut hingga kedaratan akibat gelombang tinggi pada Sabtu (22/12) malam. (FOTO: IST)
\"Share

BANTENEXPRES – Masyarakat Banten di kawasan Anyer Kabupaten Serang dan sekitarnya digemparkan adanya gelombang air laut yang naik hingga kedaratan pada, Sabtu (22/12) malam sekira pukul 21:34 WIB. Menyebabkan kepanikan warga.

Disambung simpang siur berita yang terus update dilini massa alias sosial media makin membuat mencekam malam minggu itu. Dugaan-dugaan terjadi tsunami pun merebak, membuat warga semakin panik. Akibat fenomena alam ini beberapa bangunan dilaporkan rusak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pun dengan sigap melansir melaporkan status tersebut lewat akun-akun media sosialnya, seperti di Twitter dan Facebook. “Tidak Ada Tsunami di Anyer dan Lampung Selatan, Hanya Gelombang Pasang” bunyi petikan BNPB dilaman akun Facebook, Sabtu (22/12) malam.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebut pihaknya tidak mencatat adanya aktivitas kegempaan yang menyebabkan Tsunami malam ini. Menurut BMKG, yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan Tsunami, melainkan hanya gelombang air laut pasang.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, mencatat sebanyak tiga orang meninggal akibat terjangan gelombang tinggi di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan. Selain itu, sebanyak 21 orang dilaporkan terluka di daerah tersebut.

"Data sementara dampak gelombang pasang yang dihimbun BPBD pada 23/12/2018 pukul 00.30 WIB, terdapat 3 orang meninggal dunia dan 21 orang luka-luka di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Di Lampung Selatan tercatat 3 orang meninggal dunia, 11 orang luka-luka dan dirawat di rumah sakit, dan lebih dari 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan di Kabupaten Pandenglang 10 orang luka-luka. Pendataan masih dilakukan. Kondisi malam dan gelap menyebabkan belum semua dampak kerusakan diselesaikan.

Dikatakannya, BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan penanganan. Bantuan disalurkan kepada masyarakat. Kondisi pasang laut yang menerjang pantai sebagian sudah surut. Genangan dan material sampah masih banyak di permukiman.

"Fenomena gelombang pasang ini bukan disebabkan oleh gempa bumi yang memicu tsunami atau pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau. Tetapi lebih disebabkan oleh dinamika laut dan pengaruh bulan purnama," katanya.

"Masyarakat dihimbau tetap tenang. Tidak ada tsunami. Penyebab tsunami adalah disebabkan gempa (umumnya gempa lebih besar dari 7 SR, pusat gempa di laut dengan kedalaman kurang dari 20 km dan di zona subduksi), longsor bawah laut, erupsi gunungapi dan jatuhnya meteor di laut," demikian laporan Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (23/12) dini hari. (DIR)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek