Hukum_Kriminal
Selasa 01 September 2020 23:08
Warga Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang menangis saat aksi unjukrasa menuntut keadilan. (BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

TANGERANG - Dengan membawa alat-alat rumah tangga sisa peninggalan eksekusi, puluhan warga dari RT01-02/RW01 Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang melakukan aksi unjukrasa di Kantor Walikota dan DPRD Kota Tangerang, Selasa (01/09).

Massa menuntut penggantian lahan dan rumah milik warga yang tergusur oleh proyek pembangunan Jalan Tol JORR-II, Bandara-Ceper-Kunciran, serta meminta keadilan kepada Walikota Tangerang.

Pada aksi ini, sejumlah Ibu-ibu tak henti-hentinya menangis dan menjerit-jerit hingga suara mereka serak. Mereka tak kuasa menahan sedih lantaran rumahnya dihancurkan [dieksekusi] alat berat pada pagi harinya.

“Pak Jokowi tolong kami!,” teriak Ibu Desi dan kawan-kawannya yang tak henti menangis. “Rumah kami digusur paksa pak, kami dieksekusi diintimidasi. Tolong pak Walikota keluar,” jerit mereka dalam tangis.

“Kami mau tinggal dimana pak. Rumah kami sudah hancur,” kembali teriakan Ibu-ibu memekik bercucur air mata.

BACA JUGA: Polres Metro Tangerang Tindak Lanjuti Penyelidikan Dugaan Manipulasi PKH

Rumah-rumah mereka dihancurkan karena lahan tersebut akan dibangun Jembatan Tol Kunciran-Batuceper-Soekarno-Hatta. Padahal menurut warga, lahan mereka belum dibayarkan oleh pengembang.

Namun, sepanjang aksi unjukrasa Walikota Tangerang tak jua menampakan diri, menyambangi aksi warga.

“Alat-alat rumah tangga ini akan kami serahkan ke Walikota Tangerang sebagai protes mengapa rumah-rumah kami digusur secara paksa,” cetus Dedi, salah satu warga Jurumudi kepada wak media, dilokasi.   

Setelah berjam-jam melakukan aksi unjukrasa, akhirnya massa diterima Sekda Kota Tangerang Herman Suwarman.

“Sebaiknya bapak-bapak dan ibu-ibu ke Pengadilan Tangerang, karena masalah ini bukan ranah Pemkot Tangerang,” kata Sekda.

Masih menurut Sekda, Wali Kota Tangerang (Arief Wismansyah) pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena masalah ini ranahnya sudah ada di Pengadilan Tangerang.

“Walikota Tangerang tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini bukan wilayahnya,” ucap Sekda. Akibat pernyataan Sekda ini, sejumlah warga mulai tak terkendali dan memukul meja dengan keras.

BACA JUGA: Angka COVID-19 Tinggi, Pemkot Tangerang Sebar 10 Ribu Masker

Seorang ibu yang penuh kekecewaan berkata, “Rumah kami dihancurkan. Kami juga dipukul aparat. Sekarang kami tidak punya rumah. Bagaimana dengan nasib kami, nasib anak-anak kami. Mau pulang ke mana. Dimana para pemimpin kami,” lirihnya.  

Sementara itu, Saipul Basri salah satu tokoh LSM Tangerang yang mengadvokasi warga, menilai penggusuran rumah warga secara paksa tidak adil dan sangat tidak manusiawi.

“Kami datang ke Pemkot Tangerang agar ada solusi, karena warga sekarang tidak punya rumah. Selain itu harga lahan murah Rp 2,6 juta per meter. Padahal ada sawah yang dibayar Rp 7 juta per meter. Ini jelas tidak adil,” ujarnya.

Hingga malam tiba, massa terus bertahan di Gedung DPRD Kota Tangerang. Setelah diterima perwakilan Pemerintah Kota Tangerang, beberapa wakil rakyat menampung aspirasi keluhan dan tuntutan warga tersebut. (ZIE/BUD)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek