Hukum_Kriminal
Selasa 18 Desember 2018 08:17
Direktur Eksekutif YAPELH, Uyus Setia Bhakti. (BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

BANTENEXPRES - Berpayung Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, bahwa Aki/battery setelah tidak dipakai dan menjadi aki bekas adalah benda yang berbahaya dan beracun. Secara Peraturan dan Perundangan Republik Indonesia, Aki bekas ini dikategorikan sebagai Limbah Bahan Beracun Berbahaya (LB3), sehingga harus da wajib dikelola dengan di daur ulang secara hati-hati dan dengan prosedur dan metode proses yang benar serta peralatan khusus.

“Tanpa proses pengelolaan yang benar, Limbah Aki Bekas akan mengakibatkan dampa kerusakan lingkungan berupa pencemaran tanah, air dan udara yang sangat serius berkepanjangan. Debu dan asap yang dihasilkan sangat berbahaya untuk kesehatan manusia (terutama kecerdasan anak) karena asap dan udara tersebut mengandung timbal dan asam sufat,” terang Direktur Eksekutif Yayasan Lingkungan Hidup (YAPELH) Uyus Setia Bhakti, di Tangerang, Senin (17/12).

Dari investigasi dan penelitian pihkanya di lapangan,  ditemukan dengan bukti yang kuat bahwa PT. Indra Eramulti Logam Industri (IMLI) sebagai pemasok utama perusahaan aki/battery Astra, diduga tidak mengolah/mendaur ulang aki bekas sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundagan-undangan.

“Selain itu, berdasarkan informasi dan data yang kami dapatkan, PT. Century Batteri Indonesia (CBI) yang merupakan anak perusahaan dari PT. Astra Otoparts, Tbk membeli bahan baku timbal batangan dari PT. Indra Eramulti Logam Industri (IMLI) untuk diproduksi menjadi aki,” kata dia.

Kemudian aki hasil produksi dari PT CBI di pasok kepada PT. Astra Otoparts, Tbk dengan demikian maka secara langsung maupu tidak langsung PT Astra Otoparts, Tbk diduga telah memberikan dukungan atas proses produksi bahan baku aki yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah No 101 Tahun 2014 tentang Pegelolaan Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3).

Menyikapi hal tersebut diatas, Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELHI) lembaga yang concern dalam advokasi pelestarian lingkungan hidup sejak tahun 2002, menuntut;

1. PT. Astra Otoparts, Tbk, untuk memutus mata rantai industri yang memproduksi pengolahan aki bekas pencemar Lingkungan Hidup.

2. PT. Astra Otoparts, Tbk, untuk menghentikan aktivitas pemasokan aki/battery dari Industri yang tidak mengolah/mendaur ulang aki bekas sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan.

3. PT. Astra Otoparts, Tbk, bertanggung jawab atas kelalaian karena lemahnya pengawasan internal dengan membeli produk salah satu komponen dari industri yang diduga kuat telah melakukan pencemaran Limbah B3.

4. PT. Indra Eramulti Logam Industri (IMLI), bertanggungjawab atas pencemaran lingkungan hidup, dengan produksi bahan baku Aki yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3).

“Kami mendesak stop produk industri pencemar lingkungan hidup, dan tuntutan kami menjadi perhatian serius PT. Astra Otoparts, Tbk, untuk dapat menindaklanjuti tuntutan dan rekomendasi yang telah kami sampaikan,” demikian Uyus Setia Bhakti dalam keterangannya. (DIR)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek