BADUY Tidak Ada Kambing, Ini Filosofinya
Kamis 23 Desember 2021 19:16
Anak-anak suku Baduy Dalam bermain dijembatan tak jauh dari lembur Cikeusik. (FOTO: BantenExpres)
BANTENEXPRES - Suku Baduy yang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten menjadi kawasan destinasi wisata dan salah satu tujuan tourism lokal hingga mancanegara.
Seperti diketahui suku Baduy ada dua, Baduy Dalam dan Baduy Luar. Keunikan Baduy ini menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik budaya maupun kearifan lokal lainnya menjadi magnet suku Baduy.
Selain adanya Seba yang dilaksanakan setiap tahunnya, salah satu keunikan itu adalah, pepatah atau peribahasa yang masih dipegang teguh hingga saat ini oleh masyarakat Baduy.
"Gunung nteu meunang dilebur. Lebak nteu meunang diruksak" (gunung tak boleh dihancurkan. Lembah tak boleh dirusak). "Lojor nteu meunang dipotong. Pendek nteu meunang disambung" (Panjang tak boleh dipotong. Pendek tak boleh disambung).
Ini juga merupakan prinsip-prinsip hidup suku Baduy yang hingga kini terus dipegang kuat guna menjaga kelestarian alam dan adat sejak mereka lahir di Bumi Banten.
Meskipun mengisolasi diri dari peradaban modern, Baduy adalah suatu suku yang mampu mempertahankan apa yang dinamakan local wisdom atau yang kita kenal dengan kearifan lokal dan mereka terus mengamalkan nilai-nilai leluhur.
Selain keunikan-keunikan keragaman suku Baduy itu, tahukah anda? bahwa di Baduy sendiri tidak ada hewan berkaki empat. Yakni kambing, kerbau dan sapi. Kecuali anjing (untuk berburu).
Kenapa disana tidak ada kambing, kerbau, sapi? Usut punya usut, hewan-hewan tersebut memang sengaja tidak dipelihara oleh warga Baduy, baik Baduy luar maupun Baduy dalam.
Seperti disebutkan diatas, suku Baduy memegang teguh dan mengamalkan nilai-nilai para leluhur. Pun dengan hewan berkaki empat (kambing, kerbau, sapi), alasan yang kuat dan relevan mengapa disana tidak ada kambing, karena warga Baduy mempertahankan apa yang disebut "Ngaranjah".
Konsep ngeranjah inilah yang dipegang kekeuh oleh warga Baduy. Ngeranjah sendiri bila diartikan secara bahasa Indonesia adalah, sesuatu yang dapat merusak, mempengaruhi, memakan tanaman yang ditanam orang lain, sehingga menimbulkan konflik dan bahkan berujung pertengkaran.
Hal ini juga salah satu 'keajaiban' local wisdom suku Baduy. Sederhana tapi rasional, mereka lebih memilih 'mengeluarkan' kambing dari Baduy ketimbang hanya akan membuat kerusakan, kegaduhan. Gara-gara kambing masuk ke huma orang lain dan memakan rumput dan tanaman lainnya.
"Ngaranjah__ka huma jeung kebon batur" begitu jawaban singkat warga Baduy kalau ditanya, kenapa di Baduy tidak ada kambing dan kerbau.
Senada, disampaikan Pu'un Sangsang, tetua lembur Cikertawarna, Baduy Jero (dalam). Saat penulis bersama aktivis lingkungan hidup berkesempatan bincang santi digubuk sang Pu'un, akhir pekan kemarin.
Pu'un Sangsang (kepala adat tertinggi) lembur (kampung), mengatakan, hingga kini suku Baduy terus mempertahankan kearifan lokal (local wisdom) guna menjaga dan melestarikan alam. Termasuk mata air, karena air menurutnya sumber kehidupan semua mahluk hidup.
Dengan dialeg sunda Baduy yang kental, Pu'un Sangsang juga mengungkapkan, ia sudah 18 tahun menjabat sebagai Pu'un di lemburnya, Cikertawarna. Selama menjabat seorang Pu'un tidak boleh keluar, praktis aktivistasnya hanya ke huma (ladang) dan tinggal di lembur saja.
Usianya sudah beranjak senja, Pu'un Sangsang nampak terlihat masih kekar nan kuat, suaranya yang pelan tapi pasti membuat perbincangan semakin hangat ditengah malam itu ditemani damar (lampu) dari minyak sayur.
"Kula mah bisana ngadoakeun bae. Mugya rapih tengtrem (saya mah bisanya mendokan saja, semoga rapih dan tentram)," ujar dia ketika ditanya harapanya tentang alam saat ini.
Pu'un Sangsang yang mempunyai 4 orang anak ini juga menceritakan sedikit tentang keluarganya, dimana ia memiliki anak berjumlah 7 orang. Namun, 3 anaknya telah meninggal dunia.
Ia mengatakan empat bulan kedepan akan menikahkan seorang putranya yang besar. Pu'un Sangsang juga mengungkapkan orang luar tidak boleh menikah dengan orang Baduy Dalam.
Tidak secara spesifik, Pu'un Sangsang menyebut, bahwa Baduy Dalam sendiri telah ada ratusan tahun yang lalu dan sebenarnya tidak ada Baduy Luar, sebelumnya.
Kenapa ada Baduy Luar? Baduy Luar ada sebenarnya juga itu adalah bagian dari warga Baduy Dalam itu sendiri, yang diasingkan atau dikeluarkan dari Baduy Dalam karena sebab akibat melanggar hukum adat. Maka lahirnya Baduy Luar menurut dia.
Selama melakukan perbincangan, kami dilarang keras mengambil gambar (poto). Orang Baduy Dalam melarang semua peralatan modern, gudget, sepeda motor, kulkas dan atau barang elektronik lainnya. Beberapa waktu lalu sepeda motor dibakar dalam rangka menjaga kearifan lokal.
"Nteu meunang... Nteu meunang," berkali-kali ia berkata saat kami minta ambil gambar (poto).
Hal-hal lain juga dijumpai dalam prilaku suku Baduy Dalam ini, mereka tidak merokok seperti kebanyakan warga Baduy Luar yang kita temui sekarang ini.
Pu'un Sangsang tidak memberikan jawaban yang padat ketika ditanya perihal tersebut. Dalam perbincangan itu dia hanya mengeluarkan sebuah kotak yang isinya peralatan nyirih alias nginang.
Pu'un Sangsang langsung melinting beberapa lembar daun sirih dan jebug (buah pinang) lalu di-mix dengan semacam bubuk kapur. Kemudian langsung dikunyah.
"Kula mah nyirih nteu ngarokok, sok coba (saya mah nginang saja tidak merokok, silakan dicoba)," ucap Pu'un Sangsang menawari penulis untuk mencoba nyirih.
Malam semakin larut, kami pun meminta izin untuk beristirahat setelah sebelumnya tuan rumah (Pu'un) memberikan izin untuk kami ngendong (menginap) disaung (gubuk) sang tetua adat lembur Cikertawarna, yang terletak diatas bukit ditengah-tengah huma.
Selama penulis melalukan trip ke Baduy Dalam (Cobeo-Cikertawarna-Cikeusik) satu hari satu malam melewati huma dan kebon, tak satupun melihat apalagi berjumpa dengan kambing, kerbau apalagi sapi. Kalau kotok (ayam) iya, setiap lembur banyak warga memelihara.
Sekedar informasi, warga Baduy juga hingga kini masih menggunakan lumbung padi, sebagai cadangan ketika musim paceklik tiba. Lumbung-lumbung ini hampir ditemui disetiap huma ataupun lembur. Lagi-lagi (konon) tidak ada tikus yang masuk ke lumbung, oleh karena tikus sudah diberikan haknya lebih dulu.
(ZIE)
Comments