Home - Lapsus - Nasional - Politik - Hukum - Ekonomi - Olah Raga - Pendidikan - Kesehatan

Isra Mi'raj, Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Langit Ketujuh hingga Bertemu Para Nabi Terdahulu

Sabtu 18 Februari 2023 10:29

Ilustrasi - Masjid Al-Aqsha salah satu sejarah perjalanan Baginda Nabi Muhammad SAW, Isra Mi'raj. (FOTO: Istimewa)

BANTENEXPRES - Bagi Umat Islam peristiwa Isra Mi'raj menjadi salah satu momen yang sangat penting dan bersejarah. Peristiwa ini merupakan perjalanan Baginda Nabi Besar, Nabi Muhammad SAW ke langit ketujuh, yang juga mempertemukannya dengan para nabi terdahulu.

Kisah Isra Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj sendiri terjadi pada tanggal 27 Rajab. Jika biasanya wahyu untuk Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, kali ini Allah SWT memberikan perintahnya langsung pada Rasulullah SAW.

Isra Mi'raj sendiri merupakan dua peristiwa yang terjadi pada waktu yang berbeda, bukan merupakan satu peristiwa saja. Peristiwa Isra Mi'raj ini sangat penting karena berkaitan dengan ibadah utama bagi umat Muslim, yakni salat 5 waktu.

Isra merupakan peristiwa perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsha (Palestina). Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW menaiki Buraq.

Sementara, Mi'raj merupakan peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Bumi menuju langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah langsung.

Allah SWT memanggil Rasul untuk menyampaikan perintah mendirikan salat bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Awalnya, Rasul diperintahkan untuk menjalankan 50 kali salat.

Namun, karena takut umatnya tak bisa menjalankan salat sebanyak 50 waktu, Nabi Muhammad SAW meminta keringanan hingga hanya perlu menjalankan perintah salat 5 waktu dalam sehari semalam.

Sedangkan jika diartikan dari bahasa, Isra Mi'raj berasal dari dua kata, yakni 'isra' yang berasal dari kata 'asra' yang berarti perjalanan dan 'miraj' yang berarti tangga atau perjalanan.

Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi terdahulu

Dalam kisah Isra Mi'raj ini, Rasul bertemu dengan beberapa nabi terdahulu pada setiap langit yang dilewatinya. Pada langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi pertama, Nabi Adam AS.

Setelah sampai di langit kedua, Rasul lantas bertemu dengan dua nabi, yakni Nabi Isa AS dan juga Nabi Yahya AS. Perjalanan Rasul lantas berlanjut ke langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf AS.

Setelah bertemu dengan Nabi Yusuf AS, Nabi Muhammad SAW kembali melanjutkan perjalanannya ke langit ke-4. Di langit ke-4, Rasul bertemu dengan Nabi Idris. Di langit ke-5 Rasul bertemu dengan Nabi Harun.

Kesedihan Nabi Musa AS

Jika sebelumnya pertemuan Rasul dengan para nabi terdahulu berjalan dengan penuh kebahagiaan, hal berbeda justru terlihat saat Rasul bertemu dengan Nabi Musa AS.

Kesedihan Nabi Musa saat bertemu dengan Rasul terjadi pada langit ke-6. Nabi Musa AS terlihat menangis saat Nabi Muhammad SAW hendak melanjutkan perjalanannya ke langit ke-7.

Rasul pun lantas menanyakan mengapa Nabi Musa sampai menangis saat bertemu dengannya. Nabi Musa pun lantas mengatakan jika ia menangis karena melihat sosok Rasul yang jauh lebih muda, namun memiliki jumlah umat yang lebih banyak masuk surga dibandingkan dengan umatnya.

"Musa menangis karena merasa sedih atas umatnya jauh lebih sedikit dibandingkan umat Muhammad dan keutamaannya kalah dari Nabi Muhammad" (Syekh Badruddin Ahmad al-Aini, Kitab Umdatul Qari).

Nabi Musa AS menyesal karena tidak bisa memaksimalkan usianya yang jauh lebih panjang untuk bisa berdakwah pada umatnya agar bisa patuh seutuhnya kepada Allah SWT.

Pemicu Isra Mi'raj

Menurut Syekh Muhammad Khudori dalam Nur Al Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin, menjelaskan adapun hal yang memicu terjadinya peristiwa Isra dan Mi’raj yaitu sebagai bentuk tasliyah (hiburan) yang Allah SWT berikan kepada kekasihnya (Nabi Muhammad SAW), karena ditinggal oleh dua orang yang dicintainya yaitu Khadijah sang istri dan Abu Thalib sang paman. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian (Nabi Muhammad SAW saat itu berumur 51 tahun) atau biasa disebut dengan ‘amul huzn' (tahun kesedihan).

Dalam sebuah malam selepas salat isya’ Rasulullah SAW beristirahat sejenak sambil berbaring di Masjidil Haram. Kemudian beliau didatangi malaikat Jibril dan dada beliau di belah.

"Lalu hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air ZAM ZAM, kemudian dikembalikan ke tempatnya dan memenuhinya dengan iman dan hikmah". (HR Bukhari).

Setelah itu, di datangkanlah Buraq yang menjadi kendaraan beliau sewaktu isra. Buraq satu akar kata dengan barq yang artinya kilat.

"Didatangkan kepadaku Buraq-yakni seekor tunggangan berwarna putih, tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal, ia meletakkan langkahnya sejauh pandangannya". (HR Muslim).

Setibanya di Masjidil Aqsha, beliau shalat dua rakaat mengimami ruh para Nabi. Usai shalat dan keluar dari Masjidil Aqsha, Malaikat Jibril datang membawa dua wadah minuman. Satu berisi susu dan satu lagi berisi khamar. Rasulullah SAW pun memilih susu.

Hingga beliau pun melewati pintu-pintu langit yang dihuni oleh arwah para Nabi. Di langit ketujuh, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim AS yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. Dimana tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 malaikat dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya. Kemudian Buraq tersebut pergi bersamanya ke Sidratul Muntaha yang lebar daun-daunnya seperti telinga gajah dan besar buah-buahnya seperti tempayan besar.

Tatkala perintah Allah SWT memenuhi Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya. Maka Allah memberikan Wahyu dan mewajibkan kepadaku solat lima puluh kali dalam sehari semalam.

Diolah dari berbagai sumber

Comments


Explore our site

Home

Gallery

About

Contact

facebook twitter linkedin gplus youtube tumblr pinterest