Nasional
Jumat 23 April 2021 16:07
Ilustrasi - Kebutuhan akan daging ayam dalam negeri terus meningkat. (FOTO: Dok-Istimewa)
\"Share

JAKARTA - Gelombang impor pangan terus menerus mendera negeri tercinta Indonesia. Sekarang giliran ancaman impor daging ayam berada di depan mata. Kok bisa ya?

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Syailendra, mengatakan harga daging ayam di dalam negeri kalah saing dengan di luar negeri, khususnya dengan Brasil.

Persoalan harga pakan dan DOC atau anakan ayam di dalam negeri mahal. Harga pakan mahal disebabkan harga bahan bakunya, yaitu jagung, yang juga mahal.

"Persoalan sekarang, pakan itu kenaikannya sudah cukup tinggi. Bahkan menurut hitungan kami dalam berapa bulan terakhir naik hampir 30 persen," kata Syailendra dalam diskusi online bertajuk 'Harga Jagung Melambung', yang diselenggarakan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi, seperti dikutip CNBCIndonesia, kemarin.

Dia mengatakan, harga pangan berkontribusi 45-50 persen dari harga ayam broiler.

"Kalau kita tidak bisa memberikan harga jagung yang lebih baik, maka akan ada persoalan yang lebih besar yang kita hadapi," ucapnya.

"Saya ingin mengingatkan kalau kita tidak meningkatkan daya saing. Brasil di depan mata. Kalau melihat tren kita akan kalah dengan Brasil," jelas Syailendra.

Dia mengatakan, selama ini Indonesia masih menahan masuknya ayam impor. "Kita tidak tahu apakah akan mengulur dari setahun atau setahun setengah. Tapi daging ayam murah akan masuk," ujar dia.

"Kalau kita tidak mempersiapkan diri di dalam negeri, dengan DOC tinggi dan pakan tidak bersaing," sambungnya.

"Kita harus meningkatkan melakukan efisiensi produktivitas kita untuk bisa bagaimana harga pakan dan DOC murah, sebelum yang dari luar menyerbu kita," demikian Syailendra berkata.

Selama ini harga ayam domestik yang mahal dijadikan sebagai salah satu alasan mengapa Indonesia harus bersiap dengan impor ayam.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, kebutuhan akan ayam setiap tahunnya meningkat. Hal ini harus diimbangi dengan peningkatan produksi.

Namun, masalahnya kenaikan ongkos produksi membuat harga ayam domestik melambung tinggi bahkan bisa lebih mahal dari negara lain.

Di Malaysia contohnya, harga satu kilogram daging ayam dibanderol di Rp 25.000-48.000/kg. Sementara di Indonesia harga satu kilogram daging ayam berkisar di Rp 30.000-60.000/kg.

Harga ayam di Tanah Air kisarannya hanya lebih rendah dari Filipina dan Vietnam. Bahkan lebih mirisnya lagi harga daging ayam di dalam negeri lebih murah 24 persen dibanding di Uni Eropa. (GUNG)

Sumber: CNBCIndonesia

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek