Hukum_Kriminal
Sabtu 24 April 2021 19:34
Aki Pulung menangis saat mengetahui hutan sakral Gunung Liman rusak. (FOTO: Capture Video)
\"Share

BANTENEXPRES - Aki Pulung, tetua Adat Baduy Dalam menangis minta tolong ke pemerintah lantaran dua hektar lahan di Gunung Liman, pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, rusak.

Permintaan tolong tetua Adat Baduy yang diberi amanat menjaga hutan sakral di Gunung Liman ini diunggah di akun @inforangkasbitung dan menjadi viral, Kamis (22/04) kemarin.

Sementara perusaknya adalah para penambang emas liar. Hal itu terlihat dari bekas-bekas lubang galian yang ditinggalkan.

Hutan yang disakralkan tersebut kini gundul lantaran adanya aktivitas tambang emas liar. Bahkan, hutan yang rusak mencapai 2 hektar.

Kepala Desa Cibarani, Kecamatan Lebak, Dulhani mengatakan, di hutan sakral itu ditemukan sejumlah lubang yang diduga tempat penambang liar mencari emas.

Lubang-lubang tambang emas ilegal itu berlokasi di Gunung Limun yang masuk wilayah Wewengkon Adat Kasepuhan Cibarani di Kecamatan Cirinten.

Lokasi itu masih masuk hutan titipan leluhur Baduy. Hutan tersebut merupakan sumber mata air yang sangat dijaga oleh masyarakat suku Baduy.

Di sana terdapat sumber aliran sungai-sungai penting di Kabupaten Lebak dan Banten, yakni Sungai Cibarani, Ciliman, Ciujung, dan Sungai Cibaso.

Kepala Desa sekitar Baduy mengecam pelaku penambang emas ilegal atau gurandil yang merusak hutan larangan di Gunung Liman, Kabupaten Lebak ini. Mereka menyayangkan tindakan gurandil yang telah merusak hutan larangan masyarakat Baduy.

Kepala Desa Kanekes Jaro Saija meminta keterlibatan pemerintah dan pihak lain dalam pembubaran atau penutupan lokasi tambang di Gunung Liman. Terlebih, para pelaku diketahui tidak ada di lokasi, saat masyarakat Baduy datang di tempat tambang.

"Iya, kalau melakukan lagi. Saya menekankan menta (meminta) bantuan pemerintah supaya ditegaskan. Mudah-mudahan sudah tidak melakukan lagi," ucap dia.

"Kalau melakukan lagi saya menekankan ke pemerintah tolong dibantu dibubarkan," sambung Jaro Saija, Kamis (22/04).

Selain itu, Lembaga Adat Baduy menekankan kepada kepala desa sekitar untuk ikut menjaga Gunung Liman. Meski diketahui, gurandil sudah tidak di lokasi karena melarikan diri. 

Kapolda Banten nyatakan 'perang'

Sementara itu, Kapoda Banten Irjen Pol Rudy Heriyanto menyatakan 'perang' terhadap semua aktivitas tambang yang dilakukan secara melawan hukum di wilayahnya.

"Semua aktivitas tambang, baik tradisional maupun berskala usaha, sudah seharusnya memedomani peraturan perundang-undangan terkait serta etika lingkungan hidup," ujar Kapolda di Serang, Sabtu (24/04).

Selain itu, Kapolda juga memperingatkan bagi para pelaku tambang liar yang tidak mengikuti aturan baik terkait kawasan hutan lindung serta perizinannya, dapat dipidana.

"Pada saat yang sama perhatikan dampak sosial dan faktor ketergantungan mahluk pada alam dan masa depan generasi mendatang,” kata dia.

Dengan demikian, Kapolda Banten yakin, tidak akan terjadi tindakan secara eksploitatif terhadap alam.

“Untuk itu, taati hukum dan arif-lah. Ada etika lingkungan hidup. Itu semua demi keseimbangan alam bagi kehidupan sesama mahluk," tutur Kapolda yang juga mantan Kadiv Hukum Polri ini.

Pihaknya, Ditreskrimsus Polda Banten telah menutup aktivitas tambang emas ilegal di Gunung Liman yang meresahkan suku adat Baduy di Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak itu. (MUH/GUNG)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek