Lapsus
Rabu 21 April 2021 04:09
Sekjend PDI-P Hasto Kristiyanto meresmikan Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis. (FOTO: BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Dengan ditandatanganinya prasasti dibawah patung Bung Karno oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, pada tanggal 10 April 2021 diresmikanlah Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis.

Dilahan dengan luas sekira 5000 meter persegi, Padepokan yang berlokasi di Kampung Babakan, Bojong Nangka, Kabupaten Tangerang Banten ini nampak berdiri megah nan asri.

Pelbagai fasilitas dibangun di Padepokan ini, antara lain Rumah Baca, PAUD, Aula, Mushola hingga lapangan tenis. Kelompok Cipayung Plus mencetak kadernya mulai dari Reog, Jaranan, Jathilan, Barongan, Seni Tari dan Campur Sari di Padepokan ini.

Oleh para penggiat sosial, budaya dan politik. Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis yang dimotori Ananta Wahana sekaligus pengasuh Padepokan dirombak menjadi tempat mengolah bathin, pikir, kreativitas dan kegiatan seni budaya serta pendidikan alternative, setelah 10 tahun berjalan.

Ananta Wahana yang juga Anggota Komisi VI DPR-RI asal PDI Perjuangan menjelaskan, dinamai Padepokan Karang Tumaritis karena terinspirasi dari sosok 'Semar Bodroyono' dalam karakter pewayangan.

"Semar adalah sosok wong cilik yang sederhana dan tidak neko-neko," terang Ananta pada kesempatan Reses bersama Pewarta se-Tangerang Raya, Selasa (20/04) jelang buka puasa di Aula Padepokan.

Tetapi dihadapan Semar, lanjut Ananta, Betara Kala yang menguasai dunia setan dan jin tunduk kepada Semar.

"Nah, Padepokan Karang Tumaritis ini kami harapkan dapat berkontribusi untuk merubah Betara Kala menjadi Kasatria atau bahkan Dewa. Maksudnya adalah mampu mencetak kader nasionalis pancasilais bagi generasi anak bangsa untuk negeri Indonesia tercinta," tutur dia.

"Selain tempat dan pusat kebudayaan, Padepokan ini juga untuk memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak imigran asal Turki, Iraq, Afganistan dan Vietnam," Ananta mengungkapkan.

Diketahui pada peresmian Padepokan ini juga digelar dialog "Strategi Bangkit dan Krisis Multi Dimensi - Penguatan Ekonomi Nasional Ditengah Pandemi COVID-19".

Dihadiri Ekonom Senior INDEF Enny Sri Hartati, Anggota Komisi VI DPR-RI Deddy Yevri Hanteru, Kepala Kebudayaan Nasional DPP PDI-P Aria Bima dan Cendikiawan Muslim Zuhairi Misrawi.

Pada kesempatan itu, Hasto menyuarakan bahwa generasi muda harus melihat pandemi COVID-19 bukan sebagai musibah, tetapi sebagai panggilan sejarah untuk berbuat sesuatu bagi negeri.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang digembleng oleh berbagai cobaan dan rintangan sejarah untuk kemudian mampu membuktikan diri secara mumpuni dan mempertahankan serta melanjutkan kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan susah payah," papar politisi senior itu.

Hasto berkata, Indonesia di masa kepemimpinan Soekarno menjadi pelopor dalam ikut memerdekakan negara-negara berpenduduk muslim, seperti Pakistan dan Al-Zajair.

"Sejak awal Pancasila justru berjalan beriringan secara harmonis dengan agama-agama di Indonesia. Termasuk Islam. Maka tempat seperti Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis ini harus menjadi wadah untuk memperkuat prikemanusiaan dan gotong-royong bagi kaum muda di masa krisis pandemi COVID-19," tegas Hasto.

Senada disampaikan Aria Bima, akan pentingnya jalan kebudayaan dalam merespon krisis. Menurutnya, kebhinekaan Indonesia justru terlihat terancam dimasa krisis dan banyak orang mulai tidak lagi yakin dengan identitas kebangsaan Indonesia yang kaya dan majemuk.

"Maka, Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis ini sangat dibutuhkan sebagai wadah untuk memupuk rasa kebudayaan dan kebhinekaan Indonesia," kata dia. (ZIE/GUNG)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek