Pendidikan
Kamis 23 Juli 2026 15:48
Anak-anak bersama aktivis GMNI menggelar taman bacaan di atas kain terpal sebagai protes Perpustakaan Mini milik Pemkot Tangerang terbengkalai. (FOTO: untuk BantenExpres)
\"Share

BANTENEXPRES - Puluhan aktivis mahasiswa dari Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) STISNU Nusantara, menggelar lapak buku gratis di atas kain terpal, Rabu (22/07) sore.

‎Gerakan tersebut sebagai bentuk protes sekaligus dorongan bagi giat literasi warga, atas tidak beroperasinya Perpustakaan Mini milik Pemkot Tangerang di kawasan Ecopark, Neglasari. 

‎Ketua DPK GMNI STISNU Nusantara, Muhamad Ridwan, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan kritik terbuka terhadap Pemerintah Kota Tangerang yang dinilai gagal mengoptimalkan aset daerah.

‎"Kami miris melihat perpustakaan di taman ini mangkrak dan tidak beroperasi. Padahal, pembangunan fasilitas publik menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit. Jika dibiarkan mati begini, sama saja anggaran daerah dibuang sia-sia," kata Ridwan di lokasi. 

‎Ridwan menepis narasi klasik birokrasi yang kerap menyalahkan rendahnya minat baca masyarakat. 

‎"Persoalan utama justru terletak pada lemahnya tatakelola, konsep dan komitmen perawatan pascapembangunan fisik," tegas Ridwan. 

‎Gerakan dari mahasiswa di Taman Ecopark ini menyintesiskan persoalan mendasar dalam pembangunan publik di daerah: ketersediaan infrastruktur tanpa dibarengi dengan konsep pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.

‎"Kalau membuat fasilitas publik hanya untuk mengejar laporan proyek lalu dibiarkan terbengkalai, untuk apa? Jika pada akhirnya mahasiswa yang harus turun tangan melayani warga, lantas apa fungsi kehadiran dinas terkait?" ujar Ridwan menegaskan.

‎"Harusnya Pemkot malu. Masa (pelayanan) kalah gerak dengan mahasiswa yang cuma bermodal terpal?" cetus Rendra seorang warga yang melintas di lapak taman baca terpal tersebut. 

‎Lapak yang diberi nama "Taman Baca Marhaenis" itu menjajakan beragam bahan bacaan, mulai dari pemikiran kebangsaan Sukarno, karya kritis Tan Malaka, novel Pramoedya Ananta Toer, hingga literatur ekonomi-politik. Tak hanya buku kelas berat, terpal tersebut juga menyediakan buku cerita bergambar, krayon, dan buku mewarnai untuk anak-anak.

‎(MAN) 

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek