Opini
02/03/2015 10:18
AT Alkhudri. (FOTO: FB)
\"Share

Sudah kita mafhum bahwa Banten memiliki warisan budaya yang kaya dan bernilai tinggi. Eks-keraton, masjid Banten Lama, Menara Banten, Kelenteng, Perkampungan China Benteng, Kampung Habaib, dan banyak lagi lainnya. Kekayaan warisan tersebut menjadi penanda kejayaan Banten sebagai eks kesultanan nusantara.

Banten juga kaya akan warisan kesenian, seperti beladiri silat, debus, wayang dan sebagainya. Selain itu, dari Bumi para sultan ini, sosok negarawan-ulama juga banyak lahir, seperti Syeikh Abdul Karim, Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Ahmad Khatib (Pejuang Pelopor Kemerdekaan), Syafrudin Prawira Negara (Presiden PDRI) dan lainnya.

Bukti artefak, kepemimpinan visioner sultan, dan tokoh-tokoh berikutnya menjadikan Banten diperhitungkan sebagai sebuah peradaban. Banten tidak hanya dikenal dan berjaya di dalam, namun juga berjaya di luar. Banten menjadi sekolah buat para sarjana Inggris, Perancis, Denmark, Belanda, dan Jepang. Ratusan manuskrip, laporan riset, jurnal, dan buku mengukir dengan indah nama Banten.

Namun, jarum jam peradaban tersebut kini berubah 180 derajat. Banten, bak kehilangan orisinilitasnya. Reformasi politik pada tahun 2000 yang mengantarkan Banten sebagai propinsi, tidak serta merta mengubah nasib Banten dan masyarakatnya dalam 15 tahun terakhir ini. Harapan mengembalikan kejayaan masalalu masih menjadi mimpi belaka.

Kini Banten, yang jaraknya hanya selemparan tombak dari Ibu kota Negara adalah wilayah "pesakitan". Eks-gubernurnya pesakitan; pemimpinnya pesakitan, dilanda konflik keluarga dan kepentingan; rakyatnya pesakitan (marginal, miskin, busung lapar, rendah pendidikan); dan alamnya pun pesakitan (karena dieksploitasi terus menerus). Inilah faktanya, dilematis, miris, dan memilukan.

Solusi konkrit tentu sangat dibutuhkan, sehingga tidak terus menerus menjadikan Banten sebagai pesakitan. Mengembalikan Banten seperti kesultanan masa lalu, bukanlah jawaban yang tepat, karena masalalu tak pernah sama dengan masa kini. Namun, belajar dari kejayaan masalalu tidaklah salah, agar kita bisa dengan mudah menatap masa depan. Syaratnya: (1) Harus ada rekonstruksi budaya Banten - peras intisari nilai-nilai orisinalitasnya, dan jadikannya sebagai spirit kejayaan; (2) merajut islah antar elit Banten yang berkonflik - kita tau tujuan kita sama, mengapa mesti terus menerus berkonflik: dan (3) membingkai keteladanan elit intelektual, ulama, umaro, dan jawara. Sudah saatnya, keteladanan diutamakan, untuk menuju Banten Emas yang diimpikan.

Oleh : AT Alkhudri - Sosiolog UNJ/Peneliti Banten

Berita Terkait

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek