Profil Tokoh
28/09/2011 15:06
\"Share

BANTENPOST - Wakil Gubernur Propinsi Banten, Drs. H. Mohammad Masduki, M.Si, dilahirkan di daerah ”kenaiban”, Kecamatan Tangerang Kota Tangerang Banten, pada tanggal 7 Juli 1944. Masduki, begitu biasa ia disapa adalah anak dari pasangan Hj, Siti Aminah dan KH. Sya’ban Salim (Alm). Ibunya guru mengaji yang tekun dan sabar. Ayahnya seorang Kyai di Tangerang dan pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Tangerang. Terlahir di lingkungan keluarga dengan nuansa pendidikan keagamaan yang kuat, Masduki kecil dikenal rajin beribadah dan tekun belajar. Sejak kecil Masduki selalu dibimbing kedua orang tuanya untuk menjadi orang berguna di kemuadian kelak. Bimbingan kedua orang tuanya memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi Masduki. Maka tak heran, jika kemudian Masduki memberikan perhatian besar pada pendidikan.


Masduki kecil diasuh oleh Ayahnya yang tegas dan Ibunya yang lembut. Ibunya menyirami banyak nasehat kebijakan. Ayahnya menempa dengan kehidupan sederhana dan selalu mengedepankan persaudaraan melalui jalinan tali silaturahmi. Siraman dan tempaan kedua orang tuanya selalu melekat dalam kehidupannya. Tak heran, bila kemudian Masduki dikenal sebagai seorang yang rajin menjalin silaturahim. Bahkan sejak dulu hingga kini di kalangan tokoh masyarakat, para pejabat, dan aktivis pemuda, dia dijuluki seorang (pejabat) yang selalu hadir memenuhi ”kondangan”dan ”ta’ziyah”. Kebiasaan ini sering ditanyai banyak orang, ”ïni kan memang sudah seharusnya, karena agama kita menganjurkan demikian,” kata Masduki yang selalu mengumbar senyum.

 

Masduki kecil mulai memasuki Sekolah Dasar Negeri Tangerang pada 1956. Pada 1960, dia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tangerang, sementara sorenya mengikti pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Husna Tangerang. Pada 1963, Masduki memasuki Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Tangerang. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, dia mengikuti Kursus Dinas Bagian C Bandung (KDC Pamong Praja) pada 1965 dan tamat APDN pada 1968. Pada 1976 Masduki melanjutkan pendidikan ke Insitut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta. Untuk meningkatkan kualitas dirinya, Masduki mengikuti pendidikan Perjenjangan: Sepadya di Bandung pada 1989 dan Sespanas di Jakarta pada 1993. Pada 2004, Masduki menempuh pendidikan S2 Pemerintahan di Universitas Langlang Buana Bandung.


Sejak menamatkan Kursus Dinas Bagian C Bandung (KDC Pamong Praja), suami dari Hj. Dedeh Syahrawati ini menekuni karirnya di dunia birokrasi. Diantara beberapa pengalaman yang dapat diuraikan disini adalah :


1. Staf Biro Pendidikan dan Latihan Departemen Dalam Negeri pada tahun 1965,
2. Kasub Bagian Perijinan Pemda Kabupaten Tangerang pada tahun 1966,
3. Camat Krojo Kabupaten Tangerang pada tahun 1969,
4. Camat Balaraja Kabupaten Tangerang pada tahun 1971,
5. Camat Batu Ceper Kabupaten Tangerang pada tahun 1972,
6. Camat Balaraja Kabupaten Tangerang pada tahun 1977,
7. Kepala Subdit Kesra Pemda Kabupaten Tangerang pada tahun 1978,
8. Kabag Perekonomian Pemda Kabupaten Tangerang pada tahun 1979,
9. Kepala Dipenda Pemda Kabupaten Tangerang pada Tahun 1984,
10. Asisten I Sekwilda Tingkat II Tangerang pada tahun 1988,
11. Walikota Kota Administrasi Depok pada tahun 1991,
12. Sekwilda Tingkat II Bogor pada tahun 1992 (eselon IIIa),
13. Sekwilda Tingkat II Bogor pada tahun 1994 (eselon IIIb),
14. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bogor pada tahun 1994,
15. Kepala Dipenda Provinsi Jawa Barat pada tahun 1997,
16. Asisten Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Barat pada tahun 2000,
17. Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat pada tahun 2004,


Selama meniti karir di dunia birokrasi, Masduki dikenal memiliki prestasi gemilang dan sejumlah penghargaan. Di antara penghargaan yang telah diterimanya adalah :


1. Piagam Penghargaan Pembangunan tahun 1973, dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat,
2. Lencana Dharma Bhakti Gerakan Pramuka tahun 1997 dari Ketua Kwartir Nasional Pramuka,
3. Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan tahun 2000 dari Presiden Republik Indonesia,
4. Piagam Penghargaan sebagai Pegawai Negeri Sipil 30 tahun di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2000 dari Gubernur Jawa Barat.

5. Lencana Pasca Warsa VII gerakan Pramuka tahun 2002 dari Ketua Kwartir Nasional Pramuka,
6. Lencana Melati Gerakan Pramuka tahun 2003 dari Ketua Kwartir Nasional Pramuka,

Sikapnya yang tawadhu, mau bergaul dengan siapa saja, dari tukang sapu, satpan, hingga pejabat tinggi membuatnya amat disegani dan dihormati. ”Jabatan itu kan titipan yang akan diambil kembali, tidak akan selamanya kita sandang, juga apakah kalau saya bergaul dengan satpam atau tukang sapu akan menurunkan derajat jabatan saya?,” ujar Masduki.

 

(Berbagai sumber)

Berita Terkait

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek