Lapsus
Jumat 06 Maret 2020 10:27
Ketua Komisi II DPRD Kota Tangerang, Saeroji (kiri). (FOTO: Dok BantenExpres | Azie Stianegara)
\"Share

TANGERANG - Dewasa ini sekolah kerap mengadakan berbagai macam program demi menunjang prestasi akademik serta pengetahuan bagi para siswanya. Semisal program atau kegiatan study tour dan outing class.

Namun, kegiatan  semacam ini kerap dirasakan menjadi beban berat tersendiri bagi orangtua wali murid. Pasalnya, kegiatan study tour sekolah yang diadakan diluar kota sering kali memungut bayaran yang cukup besar.

Seperti dibeberapa sekolah di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, untuk tingkat SMP bisa mencapai Rp.300 sampai Rp.500 ribu, untuk satu hari perjalanan ke luar Kota, sebut saja Bandung atau Bogor.

“Akhir bulan ini anak saya rencananya akan ke Bogor, bayarnya Rp400 ribu. Saya gak tahu bisa muncul angka [bayar] itu. Kita orangtua dikasih tahu bahwa sekolah akan mengadakan kegiatan study tour, yak tapi bayar dan lokasinya sudah ditentukan oleh mereka (sekolah),” beber Ian Sandi, di Tangerang, Kamis (05/06).

Ian Sandi yang juga aktivis ini berharap kedepan, agar program dan kegiatan semacam itu untuk di evaluasi oleh kepala daerah tidak hanya dinas terkait.

BACA JUGA: Antisipasi Corona, Pegiat Pendidikan Minta Sekolah Tunda Study Tour

“Jangan sampai dimata masyarakat, study tour itu sebagai ajang mencari uang lebih. Memangnya kegiatan ini sejauh mana out putnya--pentingnya bagi para siswa. Sekolah jangan akal-akalanlah,” ujar dia yang anaknya bersekolah di salah satu SMPN di Kabupaten Tangerang.

Terkait persoalan tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kota Tangerang Saeroji, angkat bicara. Menurutnya kegiatan study tour atau outing class sekolah ada plus minusnya.

“Memang harus dikaji. Sejauh mana pentingnya study tour ini. Kedua, kalau dalam setahun diadakan beberapa kali itu yang menjadi masalah kalau bisa setahun sekali. Sebenarnya ini bagus buat pengayaan bagi para pelajar,” ujar politisi PKS ini saat berbincang dengan awak BantenExpres, di ruang kerjanya, Kamis (05/03) sore.

Ia berjanji dalam waktu dekat akan menyampaikan kepada dinas terkait agar menjadi perhatian serius. “Kita akan evaluasi study tour ini dengan dinas terkait. Kita akan minta kajian, hasil jajak pendapat dari masyarakat. Apalagi kalau ada aduan atau masukan dari masyarakat,” ucap Saeroji.

BACA JUGA: Era Digital, Presiden Minta Para Pendidik Tinggalkan Cara Usang

Saeroji pun mengimbau, agar setiap lembaga-lembaga atau forum dan dinas, bila mengadakan kegiatan study tour/outing class tidak boleh diwajibkan.

“Harus ada rasa keadilan disana, karena tingkat ekonomi orangtua wali murid itu tidak sama. Insya Allah nanti akan saya sampaikan ke Dinas agar kegiatan ini di evaluasi lagi, bila perlu ditiadakan,” cetusnya.

“Nanti kita dorong bahwa di Kota Tangerang juga banyak tempat yang layak dan bagus untuk dikunjungi oleh para pelajar,” demikian Ketua Komisi II DPRD Kota Tangerang, Saeroji mengakhiri perbincangan.

Seperti diberitakan masmedia, baru-baru ini seorang siswi di salah satu SMPN di Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi korban pembunuhan, hingga mengundang keprihatinan banyak pihak. Siswi tersebut terbunuh akibat meminta uang untuk study tour.

Peristiwa ini, para orangtua disana mendukung Pemerintah daerah setempat untuk menghilangkan kegiatan study tour sekolah yang selama ini dirasakan sebagai beban berat. (ZIE/DIR)

Tentang Kami | Hubungi Kami | Redaksi | Disclaimer

PT BantenExpres Siber Media ©2018     develop by mitratek